JurnalLugas.Com — Harga tembaga kembali melemah pada perdagangan Selasa, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang kini menimbang risiko geopolitik serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Setelah sempat menguat mendekati level tertinggi pekan lalu, reli komoditas logam ini mulai kehilangan tenaga.
Di pasar global, kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange tercatat turun tipis 0,23 persen ke level USD13.244 per ton. Sementara itu, kontrak paling aktif di Shanghai Futures Exchange juga mengalami tekanan dengan penurunan 0,48 persen menjadi 102.200 yuan per ton pada sesi perdagangan siang.
Pelemahan ini terjadi di tengah meredupnya ekspektasi pasar terhadap perkembangan positif hubungan geopolitik. Harapan akan dimulainya kembali dialog antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya sempat mendorong sentimen positif. Namun, dinamika berubah setelah pemerintah Iran memutuskan tidak melanjutkan pembicaraan, menyusul insiden penyitaan kapal kargo mereka oleh otoritas AS.
Seorang analis komoditas global mengatakan bahwa pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik. “Setiap sinyal ketegangan langsung memicu aksi ambil untung, terutama setelah harga sempat naik cukup tinggi dalam waktu singkat,” ujarnya.
Dari sisi makroekonomi, perhatian investor kini tertuju pada proses politik di Amerika Serikat, khususnya sidang konfirmasi calon Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh. Agenda ini dinilai krusial karena akan memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.
Pasar juga mencermati sejauh mana independensi bank sentral AS dapat dipertahankan di tengah tekanan politik. Presiden Donald Trump sebelumnya beberapa kali melontarkan kritik terhadap kebijakan suku bunga yang dianggap terlalu tinggi dan lambat untuk diturunkan.
“Pasar tidak hanya melihat siapa yang memimpin The Fed, tetapi juga bagaimana sikapnya terhadap tekanan politik. Ini akan berdampak langsung pada dolar AS dan permintaan logam,” kata seorang ekonom pasar berkembang.
Di sektor energi, harga minyak mentah Brent ikut terkoreksi sekitar 0,50 persen setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 5 persen. Sementara itu, indeks dolar AS bergerak relatif stabil, menandakan pasar masih menunggu katalis baru.
Tekanan tidak hanya terjadi pada tembaga, tetapi juga merata pada logam dasar lainnya. Di London, aluminium mencatat penurunan terbesar dengan 0,88 persen, diikuti seng yang turun 0,25 persen dan nikel yang melemah 0,22 persen. Timah dan timbal masing-masing juga mengalami koreksi tipis.
Di pasar Shanghai, tren serupa terlihat dengan aluminium yang merosot 1,33 persen dan seng turun 0,62 persen. Namun, pergerakan tidak sepenuhnya seragam, karena timbal justru menguat 0,39 persen dan timah naik 0,32 persen, menunjukkan adanya rotasi minat investor di dalam sektor logam.
Secara keseluruhan, pergerakan harga saat ini mencerminkan fase konsolidasi setelah reli sebelumnya. Pelaku pasar kini cenderung menunggu kepastian dari dua faktor utama: stabilitas geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Jika ketidakpastian terus berlanjut, tekanan terhadap harga logam industri, termasuk tembaga, diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Baca analisis ekonomi dan pasar lainnya di https://JurnalLugas.Com
(SP)






