Jurus BI Dongkrak Rupiah, Suku Bunga SRBI Dinaikkan, Modal Asing Mengalir Deras

JurnalLugas.Com — Bank Indonesia (BI) mempertegas strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter berbasis pasar, khususnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah ini terbukti mulai menarik arus modal asing masuk secara signifikan ke pasar keuangan domestik.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, penyesuaian suku bunga SRBI dalam beberapa bulan terakhir merupakan bagian dari strategi terukur untuk memperkuat daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.

Bacaan Lainnya

“Penyesuaian struktur bunga SRBI kami lakukan untuk meningkatkan daya saing instrumen rupiah, sehingga aliran modal masuk dapat terus terjaga,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (22/4/2026).

Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, sejak awal tahun hingga April 2026, arus masuk dana asing ke SRBI tercatat melonjak signifikan.

“Sejak penyesuaian bertahap Januari hingga Maret, inflow ke SRBI sudah mencapai Rp32,5 triliun. Di April saja bertambah Rp29 triliun, sehingga total year to date mencapai Rp54,3 triliun,” jelasnya.

Tak hanya SRBI, minat investor asing juga mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) dengan tambahan inflow sekitar Rp10–11 triliun pada periode yang sama. Kondisi ini memperkuat fondasi eksternal Indonesia di tengah tekanan global yang masih berlanjut.

Likuiditas Valas Menguat

Selain instrumen rupiah, BI juga mencatat peningkatan pada Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI). Pada April 2026, instrumen ini menyerap tambahan dana sekitar 400 juta dolar AS, mencerminkan likuiditas dolar yang tetap memadai di sistem keuangan.

Destry menegaskan, BI akan terus hadir aktif di pasar keuangan global untuk menjaga stabilitas.

“BI berada di market 24 jam, baik domestik maupun offshore, termasuk di Eropa dan Amerika, guna memastikan stabilitas tetap terjaga,” katanya.

Posisi Instrumen Menguat

Hingga 21 April 2026, total outstanding SRBI tercatat mencapai Rp885,41 triliun. Dari jumlah tersebut, kepemilikan investor nonresiden mencapai Rp165,98 triliun atau sekitar 18,75 persen. Angka ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap instrumen rupiah.

Di sisi lain, BI juga memperkuat sinergi dengan kebijakan fiskal melalui pembelian SBN. Sepanjang tahun berjalan hingga 21 April 2026, total pembelian SBN oleh BI mencapai Rp111,54 triliun, termasuk Rp56,53 triliun dari pasar sekunder.

Langkah ini dilakukan secara hati-hati dan terukur untuk menjaga likuiditas perbankan sekaligus memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga.

Rupiah Tetap Terkendali

Meski tekanan global masih membayangi, nilai tukar rupiah relatif stabil. Per 21 April 2026, rupiah berada di level Rp17.140 per dolar AS, atau melemah tipis 0,87 persen dibandingkan akhir Maret 2026.

BI menilai stabilitas ini tidak lepas dari kombinasi kebijakan suku bunga, intervensi pasar, serta penguatan instrumen moneter yang adaptif terhadap dinamika global.

Dengan arus modal asing yang terus meningkat dan likuiditas yang tetap terjaga, prospek ketahanan eksternal Indonesia dinilai semakin solid dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia.

Baca selengkapnya di: https://jurnallugas.com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait