Rupiah Terancam Tembus Rp18.150 per Dolar AS, Analis Ungkap Penyebab Utamanya

Tumpukan Uang Rupiah Indonesia
Foto : Tumpukan Uang Rupiah Rp100.000, - dan Rp50.000, -

JurnalLugas.Com – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Sejumlah analis menilai kombinasi ketidakpastian global dan tantangan domestik masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Indonesia memasuki awal Juni 2026.

Setelah mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah pada akhir Mei, rupiah kini menghadapi risiko pelemahan lanjutan yang dapat membawa kurs mendekati level psikologis baru di atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai sentimen eksternal masih menjadi pemicu utama tekanan pasar. Menurutnya, dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan kepastian yang cukup kuat untuk meredakan kekhawatiran investor global.

“Potensi pelemahan masih terbuka dan rupiah berpeluang bergerak menuju kisaran Rp18.150 per dolar AS pada pekan pertama Juni,” ujarnya.

Selain berdampak terhadap pasar valuta asing, ketegangan geopolitik juga berpengaruh pada pergerakan harga energi dunia. Ketika risiko konflik meningkat, harga minyak cenderung bertahan di level tinggi sehingga memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan kebutuhan devisa negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Di saat yang sama, indeks dolar AS diproyeksikan tetap bergerak kuat. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam biasanya mendorong arus modal global kembali ke aset-aset berbasis dolar, sehingga memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Baca Juga  Pergerakan Rupiah Hari Ini Bikin Kaget! Cek Update Kurs Terbaru

Sepanjang Mei 2026, rupiah tercatat mengalami pelemahan hampir tiga persen. Tren tersebut memperpanjang periode depresiasi yang telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut, sekaligus memperlihatkan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan domestik belum sepenuhnya teratasi.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelaku pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah harga minyak dunia.

Menurut Josua, meskipun terdapat sinyal positif berupa perpanjangan gencatan senjata, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa risiko geopolitik telah berakhir.

“Penurunan harga minyak memang memberikan ruang bernapas bagi rupiah, tetapi ketidakpastian global masih menjadi perhatian investor,” katanya.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kemampuan Indonesia meningkatkan pasokan devisa secara berkelanjutan. Investor masih menunggu efektivitas kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri yang diharapkan mampu memperkuat cadangan valuta asing.

Namun sebagian pelaku pasar menilai kebijakan tersebut belum tentu langsung memberikan dampak besar terhadap ketersediaan dolar di pasar. Selama kebutuhan devisa untuk impor, pembayaran utang luar negeri, dividen, dan sektor energi tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah dinilai masih berpotensi muncul sewaktu-waktu.

Selain isu devisa, struktur pasar obligasi Indonesia juga menjadi perhatian. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyoroti bentuk kurva imbal hasil obligasi pemerintah yang dinilai terlalu datar.

Baca Juga  Rupiah Melemah ke Rp17.630 per Dolar AS, Pasar Keuangan Masih Dibayangi Tekanan Global

Ia menjelaskan bahwa imbal hasil surat utang jangka pendek dan jangka panjang saat ini berada pada level yang hampir sama. Kondisi tersebut dianggap tidak mencerminkan premi risiko yang seharusnya diterima investor untuk investasi jangka panjang.

“Ketika selisih imbal hasil terlalu tipis, investor global bisa mempertanyakan harga risiko yang terbentuk di pasar,” ujarnya.

Menurut Fakhrul, pembenahan struktur kurva imbal hasil dapat menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya tarik aset rupiah dalam jangka panjang. Investor akan lebih terdorong menahan instrumen berdenominasi rupiah apabila memperoleh kompensasi risiko yang dianggap memadai.

Dengan berbagai faktor yang masih berkembang, pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan memasuki awal Juni dengan tingkat volatilitas yang tinggi. Arah kebijakan pemerintah, pergerakan harga minyak dunia, serta perkembangan geopolitik internasional akan menjadi penentu utama apakah rupiah mampu bertahan atau justru memasuki fase pelemahan baru.

Baca berita ekonomi, bisnis, dan pasar keuangan terbaru hanya di JurnalLugas.Com.

(William)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait