JurnalLugas.Com — Pergerakan harga beras nasional pada awal Mei 2026 menunjukkan kecenderungan stabil, namun menyimpan dinamika menarik di level konsumen. Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat bahwa harga beras di berbagai kualitas masih berada dalam rentang terkendali di tengah fluktuasi komoditas pangan lainnya.
Pada Sabtu pagi (2/5/2026), beras kualitas bawah I diperdagangkan di kisaran Rp14.150 per kilogram, sementara kualitas bawah II sedikit lebih tinggi di Rp14.650 per kilogram. Di kelas menengah, beras medium I menyentuh Rp15.800 per kilogram dan medium II berada di Rp15.450 per kilogram. Sementara itu, segmen premium atau kualitas super I tercatat Rp16.850 per kilogram dan super II di angka Rp16.400 per kilogram.
Segmen Medium Jadi Penopang Konsumsi
Dari pola harga tersebut, beras kualitas medium masih menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga Indonesia. Selisih harga yang tidak terlalu lebar antara medium I dan II menunjukkan adanya keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Pengamat pangan nasional dalam keterangannya menilai, “Kelas medium saat ini menjadi indikator paling sensitif. Jika terjadi lonjakan, biasanya langsung berdampak ke daya beli masyarakat.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya stabilitas harga di segmen tersebut.
Tekanan dari Komoditas Lain Tidak Signifikan ke Beras
Menariknya, stabilitas harga beras terjadi di tengah kenaikan sejumlah komoditas lain. Cabai rawit merah misalnya, mencapai Rp60.000 per kilogram, sementara telur ayam ras berada di Rp31.000 per kilogram. Komoditas seperti bawang merah dan bawang putih juga masih bertahan di level relatif tinggi masing-masing Rp45.000 dan Rp38.500 per kilogram.
Namun demikian, tekanan inflasi dari komoditas hortikultura belum secara langsung mengerek harga beras. Hal ini mengindikasikan bahwa distribusi dan stok beras nasional masih dalam kondisi aman.
Faktor Distribusi dan Cadangan Jadi Kunci
Stabilnya harga beras tak lepas dari peran distribusi yang lebih terkendali serta optimalisasi cadangan pangan. Pemerintah dinilai cukup berhasil menjaga keseimbangan pasokan di pasar tradisional maupun modern.
Seorang pelaku distribusi beras menyebut singkat, “Pasokan masih lancar, belum ada gangguan berarti dari sisi logistik.” Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa harga beras dalam waktu dekat masih berpotensi stabil.
Memasuki pertengahan kuartal kedua 2026, tantangan utama harga beras diperkirakan berasal dari faktor cuaca dan biaya distribusi. Jika tidak ada gangguan signifikan, tren harga diprediksi tetap terkendali, terutama di segmen medium yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.
Dengan kondisi saat ini, konsumen masih memiliki ruang aman dalam mengelola pengeluaran pangan, meski tetap perlu mewaspadai fluktuasi komoditas lain yang bisa berdampak tidak langsung terhadap inflasi secara umum.
Untuk pembaruan harga pangan harian dan analisis ekonomi lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.
(SP)






