Penjualan BYD Loyo Didalam Negeri, Ekspor Jadi Penyelamat saat Gejolak Pasar

JurnalLugas.Com — Gelombang tekanan mulai terasa di tubuh raksasa kendaraan listrik asal Tiongkok, BYD. Dalam delapan bulan terakhir, perusahaan ini menghadapi tren penurunan penjualan domestik yang belum menunjukkan tanda pemulihan signifikan, meski performa globalnya masih tertolong oleh lonjakan ekspor.

Data terbaru pada April 2026 mencerminkan dinamika yang kontras. Di satu sisi, distribusi kendaraan penumpang BYD tercatat sekitar 314 ribu unit menurun 15,7 persen dibandingkan periode sebelumnya. Namun jika ditarik secara bulanan, angka tersebut justru naik tipis sekitar 6,2 persen dibanding Maret, memberi sinyal adanya perbaikan jangka pendek.

Bacaan Lainnya

Pasar Domestik Melemah, Faktor Musiman dan Kebijakan Jadi Pemicu

Penurunan ini bukan terjadi tanpa sebab. Sejumlah faktor struktural dan musiman berperan besar dalam menekan permintaan di pasar dalam negeri. Periode libur panjang Tahun Baru Imlek menjadi salah satu penyebab utama melambatnya aktivitas konsumsi.

Selain itu, kebijakan pemerintah terkait pengurangan insentif kendaraan listrik turut memberi dampak signifikan. Insentif yang sebelumnya menjadi pendorong utama adopsi mobil listrik kini mulai dikurangi, memaksa konsumen untuk berpikir ulang sebelum membeli.

Baca Juga  BYD Dolphin Mini Mobil Listrik Murah Siap Gempur Pasar Indonesia

Seorang analis industri otomotif yang enggan disebutkan namanya menyebut, “Pasar domestik China saat ini memasuki fase penyesuaian. Permintaan tetap ada, tapi tidak lagi seagresif dua tahun lalu.”

Ekspor Melejit, BYD Perluas Nafas di Pasar Global

Di tengah tekanan domestik, BYD justru menemukan momentum di luar negeri. Ekspor kendaraan melonjak drastis hingga lebih dari 70 persen pada April 2026, dengan angka menembus 134 ribu unit.

Kinerja ini menjadi penopang utama agar total penjualan global tidak terperosok lebih dalam. Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga April 2026, penjualan luar negeri mencapai lebih dari 455 ribu unit—naik hampir 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Langkah agresif ekspansi global ini tampaknya bukan sekadar strategi jangka pendek. BYD bahkan memasang target ambisius dengan membidik penjualan 1,5 juta unit kendaraan di pasar internasional sepanjang 2026.

Kontras Kinerja Anak Usaha, Ada yang Melonjak, Ada yang Tersendat

Di level merek, performa BYD juga menunjukkan variasi yang tajam. Sub-brand off-road Fang Cheng Bao mencatat lonjakan signifikan hingga 190 persen dengan penjualan lebih dari 29 ribu unit pada April. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya ceruk pasar baru yang mulai terbentuk di segmen kendaraan petualang.

Baca Juga  BBM Langka di Daerah, Kendaraan Listrik Jadi Solusi, BYD Perluas Ekspansi ke Luar Jawa

Sebaliknya, lini premium Denza justru mengalami kontraksi cukup dalam, dengan penurunan hampir 27 persen. Sementara itu, merek kelas atas Yangwang berhasil mencatat pertumbuhan hampir dua kali lipat, meski volume penjualannya masih terbatas.

Secara keseluruhan, BYD masih mampu menjaga stabilitas kinerja berkat diversifikasi pasar. Namun tekanan di dalam negeri menjadi peringatan bahwa pertumbuhan tidak bisa lagi hanya bergantung pada pasar China.

Perusahaan kini dihadapkan pada dua pilihan strategis: mempercepat ekspansi global atau menemukan cara baru untuk menghidupkan kembali permintaan domestik. Kombinasi keduanya tampaknya menjadi kunci agar BYD tetap kompetitif di tengah persaingan industri kendaraan listrik yang semakin ketat.

Di tengah perubahan lanskap industri otomotif global, satu hal menjadi jelas pertarungan tidak lagi hanya soal teknologi, tetapi juga soal strategi membaca pasar.

Baca selengkapnya di: https://jurnalluguas.com

(TT)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait