Iran Murka Usai Trump Klaim Uranium Dipindahkan ke AS, Ini Faktanya

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah muncul pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait isu uranium Iran. Pemerintah Teheran dengan tegas membantah adanya pemindahan uranium keluar negeri dan menyebut tudingan tersebut sebagai bagian dari tekanan politik Washington.

Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Behnam Saeedi, menegaskan bahwa tidak ada satu pun cadangan uranium Iran yang dipindahkan ke Amerika Serikat maupun negara lain. Ia menyebut klaim yang dilontarkan Trump tidak memiliki dasar fakta.

Bacaan Lainnya

Menurut Saeedi, pernyataan soal penghapusan ratusan kilogram uranium dari Iran hanya bertujuan membangun opini internasional di tengah negosiasi yang belum menemukan titik terang.

“Ucapan Trump terkait pemindahan uranium adalah kebohongan politik dan propaganda semata. Tidak ada uranium yang keluar dari Iran,” kata Saeedi dalam pernyataannya yang dikutip media lokal Iran.

Baca Juga  Trump Tegaskan AS Tak Akan Kirim Pasukan ke Gaza, Serahkan Operasi pada Israel

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan baru antara Washington dan Teheran hanya bisa tercapai apabila Iran menghentikan aktivitas pengayaan uranium dalam batas tertentu. Trump bahkan disebut menolak kemungkinan Iran melakukan pengayaan uranium hingga level 3,67 persen.

Situasi ini memperlihatkan hubungan kedua negara masih berada dalam fase sensitif. Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan Timur Tengah terus dibayangi ketegangan militer dan tarik-ulur diplomasi yang belum menghasilkan solusi permanen.

Konflik semakin memburuk sejak akhir Februari ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil, memicu kecaman keras dari Teheran.

Meski sempat diumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada awal April, proses diplomasi lanjutan belum membuahkan hasil konkret. Pertemuan lanjutan antara delegasi Iran dan Amerika Serikat di Islamabad juga berakhir tanpa kesepakatan strategis.

Baca Juga  Trump Ultimatum Iran “Kesepakatan atau Dihancurkan”

Washington kemudian memperpanjang penghentian operasi militer dengan alasan memberi kesempatan kepada Iran menyusun proposal baru yang dianggap lebih komprehensif untuk membuka jalan negosiasi berikutnya.

Pengamat hubungan internasional menilai polemik uranium kembali menjadi alat tekanan utama dalam diplomasi kedua negara. Iran berupaya mempertahankan hak pengembangan nuklir untuk kepentingan sipil, sementara Amerika Serikat terus menuntut pembatasan ketat demi mencegah potensi pengembangan senjata nuklir.

Kondisi tersebut membuat stabilitas kawasan Timur Tengah kembali berada dalam sorotan dunia internasional. Ketidakpastian arah negosiasi juga dinilai dapat memengaruhi keamanan regional hingga pasar energi global dalam beberapa waktu ke depan.

Baca berita internasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait