Trump Klaim AS Blokir 70 Tanker Iran di Selat Hormuz

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali memanas setelah militer Amerika Serikat mengklaim berhasil memblokir puluhan kapal tanker yang terhubung dengan ekspor minyak Iran. Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan lebih dari 70 kapal tanker tidak dapat masuk maupun keluar dari pelabuhan Iran akibat operasi maritim yang berlangsung sejak pertengahan April 2026. Kapal-kapal tersebut disebut memiliki kapasitas angkut mencapai ratusan juta barel minyak mentah dengan nilai ekonomi yang sangat besar.

Bacaan Lainnya

Langkah militer Washington itu disebut sebagai bagian dari pengawasan laut intensif di sekitar Selat Hormuz. Jalur perairan sempit tersebut selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu titik paling strategis dalam rantai distribusi energi dunia. Gangguan kecil saja di kawasan itu kerap memicu gejolak harga minyak internasional.

Baca Juga  AS Perketat Blokade Iran, 50 Kapal Dagang Internasional Dipaksa Putar Haluan

Dalam operasi tersebut, Amerika Serikat dikabarkan mengerahkan kekuatan militer besar, termasuk ribuan personel, ratusan pesawat tempur, serta armada kapal perang untuk mengontrol aktivitas pelayaran di kawasan Teluk. Pengawasan ketat itu membuat banyak kapal komersial memilih menunda pelayaran karena risiko keamanan yang meningkat.

Pengamat energi internasional menilai kondisi ini dapat memberikan tekanan besar terhadap pendapatan ekspor Iran. Sebab, sebagian besar pengiriman minyak negara tersebut sangat bergantung pada akses laut melalui Selat Hormuz. Jika blokade berlangsung lebih lama, pasar global berpotensi menghadapi ketidakpastian suplai yang lebih serius.

“Ketika jalur distribusi energi terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan kawasan Timur Tengah, tetapi juga pasar global,” ujar analis maritim Timur Tengah, Farid Al-Hassan, dalam keterangannya yang dikutip sejumlah media internasional.

Data pelacakan kapal terbaru juga menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami perlambatan signifikan. Untuk hari kedua berturut-turut, hampir tidak ada kapal komersial besar yang melintasi jalur tersebut. Kondisi itu memperlihatkan tingginya kekhawatiran operator kapal terhadap potensi eskalasi konflik.

Baca Juga  Update Terbaru Operasi True Promise 4, Iran Gempur Basis AS-Israel Serangan Rudal dan Drone ke-87

Selain berdampak pada distribusi minyak, situasi tersebut juga menambah tekanan terhadap biaya logistik dan asuransi pelayaran internasional. Banyak perusahaan pelayaran kini mulai mempertimbangkan jalur alternatif demi menghindari kawasan yang dianggap berisiko tinggi.

Di tengah memanasnya situasi, pasar energi global terus memantau perkembangan terbaru. Investor dan pelaku industri khawatir konflik berkepanjangan dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dalam waktu dekat.

Analis geopolitik menilai Selat Hormuz akan tetap menjadi pusat perhatian internasional selama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum mereda. Kawasan itu bukan hanya jalur perdagangan energi, tetapi juga simbol perebutan pengaruh strategis di Timur Tengah.

Baca berita internasional dan ekonomi global terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait