Angan-angan Purbaya Rupiah Kembali ke Rp15 Ribu per Dolar AS Juni 2026

Tumpukan Uang Rupiah Indonesia
Foto : Tumpukan Uang Rupiah Rp100.000, - dan Rp50.000, -

JurnalLugas.Com — Nilai tukar rupiah yang sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir diyakini tidak akan berlangsung lama. Pemerintah optimistis mata uang Garuda akan kembali menguat seiring stabilnya kondisi ekonomi nasional dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor psikologis pasar dibanding kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya masih solid.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, berbagai indikator utama ekonomi nasional menunjukkan performa yang cukup positif sepanjang awal 2026. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tercatat mencapai 5,6 persen dengan dukungan kuat dari konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, inflasi yang tetap terkendali, hingga investasi yang terus bergerak naik.

“Kalau melihat kondisi ekonomi saat ini, seharusnya rupiah punya ruang untuk menguat,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa 26 Mei 2026.

Ia mengaku cukup heran dengan tekanan yang dialami rupiah karena data ekonomi domestik dinilai masih berada dalam jalur yang sehat. Pemerintah pun kini fokus membangun sentimen positif pasar agar arus modal asing kembali deras masuk ke Indonesia.

Baca Juga  Pagi Ini Rupiah Melemah Waspadai Dampaknya ke Harga Barang dan Investasi

Purbaya menegaskan, negara dengan pertumbuhan ekonomi stabil biasanya menjadi tujuan utama investor global. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga pondasi ekonomi tetap kuat agar kepercayaan pasar terhadap Indonesia terus meningkat.

“Ketika investor melihat ekonomi tumbuh baik, mereka akan masuk. Itu yang akan membantu penguatan rupiah ke depan,” katanya.

Optimisme tersebut bahkan membuat pemerintah memproyeksikan nilai tukar rupiah dapat kembali berada di kisaran Rp15 ribu per dolar Amerika Serikat pada Juni 2026 mendatang.

Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, pemerintah disebut telah melakukan sejumlah langkah strategis, termasuk memperkuat intervensi di pasar obligasi domestik. Langkah itu dilakukan guna menjaga stabilitas yield sekaligus mempertahankan minat investor asing terhadap surat utang Indonesia.

Purbaya mengungkapkan, kondisi pasar obligasi saat ini masih cukup stabil meski rupiah mengalami fluktuasi. Bahkan, investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga  Revisi Aturan Pinjaman Kopdes Rampung Pekan Depan, Pemerintah Siapkan Jaminan Rp40 Triliun

“Yield obligasi masih terkendali dan asing mulai kembali masuk. Ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar perlahan mulai pulih,” jelasnya.

Penguatan rupiah dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga barang impor, memperkuat daya beli masyarakat, hingga menekan risiko gejolak ekonomi global terhadap perekonomian nasional.

Sejumlah pelaku pasar juga mulai menaruh perhatian pada langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang masih berlangsung.

Jika tren positif ekonomi domestik terus berlanjut, penguatan rupiah berpotensi menjadi momentum penting bagi pemulihan sektor investasi dan peningkatan aktivitas ekonomi nasional pada semester kedua 2026.

Ikuti berita ekonomi dan finansial terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait