Rupiah Kembali Melemah terhadap Dolar AS, Pelaku Pasar Tekanan Global

JurnalLugas.Com — Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa pagi, 12 Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat memicu perhatian pelaku pasar, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergerak dinamis.

Pada perdagangan pagi ini, rupiah tercatat melemah 69 poin atau sekitar 0,40 persen menjadi Rp17.483 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.414 per dolar AS.

Bacaan Lainnya

Pergerakan rupiah yang kembali tertekan dinilai dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset negara berkembang.

Ekonom pasar keuangan, Dedi Kurniawan, menilai penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.

“Investor global cenderung kembali masuk ke aset dolar karena dianggap lebih aman dalam kondisi pasar yang belum stabil,” ujarnya.

Tekanan Global Masih Bayangi Pergerakan Rupiah

Fluktuasi nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir tidak lepas dari perkembangan ekonomi global, termasuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, dan kondisi perdagangan internasional.

Baca Juga  Kurs Rupiah Melemah Tipis terhadap Dolar AS

Ketika dolar AS menguat, mata uang negara berkembang umumnya mengalami tekanan karena arus modal asing cenderung bergerak ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman.

Selain itu, permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor dan pembayaran luar negeri juga turut memengaruhi pergerakan rupiah di pasar domestik.

Pelemahan Rupiah Berdampak pada Harga Barang Impor

Nilai tukar rupiah yang melemah biasanya berdampak langsung pada kenaikan biaya impor bahan baku dan produk luar negeri. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah barang, terutama produk elektronik, pangan impor, hingga sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam fase yang wajar karena dipengaruhi kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.

Analis ekonomi, Reza Pratama, mengatakan pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi internasional dalam beberapa pekan ke depan.

Baca Juga  Rupiah Menguat Tipis atas Dolar AS di Pembukaan Perdagangan

“Pergerakan rupiah saat ini lebih dipengaruhi sentimen global dibanding faktor domestik,” katanya.

Investor Diminta Tetap Tenang

Di tengah fluktuasi kurs, pelaku usaha dan investor diminta tetap tenang dan tidak mengambil keputusan secara emosional. Stabilitas ekonomi domestik, pertumbuhan konsumsi masyarakat, serta kinerja ekspor Indonesia masih dinilai menjadi penopang penting bagi pergerakan rupiah dalam jangka panjang.

Bank Indonesia juga diperkirakan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai kebijakan moneter agar tekanan terhadap rupiah tidak berlangsung terlalu dalam.

Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan ekonomi global dan dinamika pasar keuangan internasional dalam beberapa waktu mendatang.

Baca berita ekonomi dan finansial terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(William)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait