JurnalLugas.Com — Persaingan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin memanas. Di tengah lonjakan kebutuhan chip memori global, Samsung dikabarkan menyiapkan investasi jumbo senilai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp26,8 triliun untuk membangun fasilitas pengujian semikonduktor baru di Vietnam.
Langkah besar perusahaan teknologi asal Korea Selatan itu dinilai sebagai strategi memperkuat rantai pasok chip dunia yang saat ini mengalami tekanan akibat tingginya permintaan sektor AI.
Fasilitas baru tersebut akan dibangun di Provinsi Thai Nguyen, kawasan industri yang terletak sekitar 60 kilometer di utara Hanoi. Lokasi itu bukan wilayah asing bagi Samsung karena sebelumnya perusahaan telah memiliki kompleks produksi perangkat elektronik besar di area tersebut.
Pabrik ini disebut akan menjadi fasilitas pengujian semikonduktor pertama Samsung di Vietnam. Fokus utamanya adalah menangani tahap akhir produksi chip, termasuk pemeriksaan kualitas dan pendeteksian cacat sebelum produk dikirim ke pasar global.
Seorang pejabat industri di Vietnam menyebut proyek tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Asia Tenggara semakin penting dalam peta industri semikonduktor dunia.
“Permintaan chip AI meningkat sangat cepat dan perusahaan teknologi mulai memperluas basis produksinya,” ujarnya singkat.
Lonjakan kebutuhan chip AI saat ini memang berdampak besar pada industri teknologi global. Banyak produsen lebih memprioritaskan produksi chip untuk pusat data AI sehingga pasokan chip untuk perangkat lain seperti ponsel pintar, laptop, hingga kendaraan modern ikut tertekan.
Samsung disebut ingin mengantisipasi kondisi tersebut dengan memperkuat kapasitas pengujian chip memori jenis DRAM dan NAND yang masih sangat dibutuhkan pasar global.
Berdasarkan rencana proyek, kapasitas produksi tahunan pabrik tersebut diperkirakan mampu mencapai lebih dari 153 miliar gigabit untuk DRAM dan sekitar 255 miliar gigabit untuk NAND.
Meski bukan chip AI paling mutakhir, jenis semikonduktor legacy chip tetap menjadi tulang punggung berbagai perangkat elektronik modern. Permintaan terhadap chip ini justru meningkat karena produsen besar kini lebih fokus mengembangkan chip AI generasi terbaru.
Pembangunan fasilitas disebut sudah dimulai dan ditargetkan mulai beroperasi pada November 2027. Saat ini ratusan pekerja Samsung dilaporkan telah berada di lokasi proyek untuk mempersiapkan tahapan konstruksi dan operasional awal.
Pemerintah Vietnam sendiri telah memberikan persetujuan investasi sejak Maret 2026. Bahkan, Samsung disebut masih membuka peluang ekspansi tahap kedua yang dapat meningkatkan total investasi hingga 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp44,6 triliun.
Vietnam kini menjadi salah satu pusat penting industri back-end semikonduktor dunia. Negara tersebut banyak dipilih perusahaan teknologi global karena memiliki tenaga kerja kompetitif dan infrastruktur industri yang terus berkembang.
Selain Samsung, sejumlah perusahaan besar seperti Intel, Amkor Technology, hingga Hana Micron juga telah mengembangkan fasilitas perakitan dan pengujian chip di negara tersebut.
Selama beberapa dekade terakhir, Samsung menjadi investor asing terbesar di Vietnam dengan total komitmen investasi lebih dari 23 miliar dolar AS atau sekitar Rp411 triliun.
Penguatan investasi ini diperkirakan akan membuka lapangan kerja baru sekaligus memperkuat posisi Vietnam sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok semikonduktor global di era AI.
Baca berita teknologi dan ekonomi global lainnya di JurnalLugas.Com
(Tirta)






