JurnalLugas.Com – Banyak orang mengeluhkan napas terasa lebih pendek atau sesak ketika suhu udara meningkat. Kondisi ini kerap dianggap sebagai hal biasa akibat cuaca panas.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa perubahan suhu ekstrem dapat memengaruhi sistem pernapasan dan memperberat kondisi kesehatan tertentu.
Saat cuaca panas, tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil. Proses ini membuat jantung memompa darah lebih cepat ke permukaan kulit guna membantu pelepasan panas.
Akibatnya, kebutuhan oksigen meningkat dan sebagian orang merasakan napas menjadi lebih berat dibandingkan biasanya.
Dokter spesialis paru menjelaskan bahwa udara panas dapat menyebabkan saluran pernapasan menjadi lebih sensitif, terutama pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga gangguan jantung.
“Ketika suhu tinggi, tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk mendinginkan diri. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat memicu rasa sesak atau napas pendek,” ujar seorang dokter paru, Rabu 17 Juni 2026.
Kualitas Udara Memburuk Saat Suhu Tinggi
Selain suhu yang meningkat, cuaca panas sering kali disertai penurunan kualitas udara. Polusi, debu, hingga peningkatan kadar ozon di permukaan bumi dapat mengiritasi saluran napas.
Paparan polutan dalam jangka pendek dapat menyebabkan batuk, tenggorokan terasa kering, hingga kesulitan bernapas. Risiko ini lebih tinggi pada anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Di sejumlah wilayah perkotaan, gelombang panas bahkan dapat memperburuk tingkat polusi udara. Kombinasi suhu tinggi dan kualitas udara yang buruk menjadi faktor utama meningkatnya keluhan sesak napas saat musim kemarau.
Dehidrasi Juga Bisa Menjadi Pemicu
Kurangnya asupan cairan saat cuaca panas ternyata dapat memengaruhi proses pernapasan. Dehidrasi membuat tubuh kesulitan mengatur suhu dan dapat menyebabkan denyut jantung meningkat.
Kondisi tersebut sering menimbulkan sensasi napas terengah-engah, terutama setelah melakukan aktivitas fisik di luar ruangan. Karena itu, menjaga kecukupan cairan menjadi langkah sederhana namun penting untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat panas.
Waspadai Jika Disertai Gejala Lain
Meski sering kali tidak berbahaya, napas pendek yang muncul saat cuaca panas tidak boleh diabaikan apabila disertai gejala lain seperti nyeri dada, pusing, bibir membiru, atau kelelahan ekstrem.
Menurut tenaga kesehatan, gejala tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan jantung, paru-paru, atau kondisi medis lain yang memerlukan penanganan segera.
“Jika sesak napas tidak membaik setelah beristirahat atau justru semakin berat, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” kata seorang praktisi kesehatan.
Cara Mengurangi Risiko Sesak Napas Saat Cuaca Panas
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Minum air putih secara cukup sepanjang hari.
- Hindari aktivitas berat saat suhu sedang tinggi.
- Gunakan masker jika kualitas udara buruk.
- Cari tempat yang teduh atau berpendingin udara saat beraktivitas di luar.
- Kelola penyakit pernapasan dan jantung sesuai anjuran dokter.
Cuaca panas memang dapat memengaruhi cara tubuh bekerja, termasuk sistem pernapasan. Memahami penyebab napas terasa pendek saat suhu meningkat menjadi langkah penting agar kondisi tersebut tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Sumber berita dan artikel menarik lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com.
(Wening)






