JurnalLugas.Com – Banyak orang menganggap obat sebagai solusi cepat untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan.
Saat sakit kepala, nyeri otot, demam, hingga flu, sebagian masyarakat terbiasa membeli obat secara bebas tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.
Padahal, kebiasaan mengonsumsi obat secara berlebihan atau tanpa pengawasan dokter dapat menimbulkan dampak serius terhadap organ tubuh, terutama ginjal.
Ginjal merupakan organ vital yang bertugas menyaring limbah, racun, dan sisa metabolisme dari dalam darah.
Setiap hari organ ini bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, hingga tekanan darah.
Ketika ginjal mengalami kerusakan, berbagai fungsi penting tubuh ikut terganggu dan dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Ironisnya, tidak sedikit kasus gangguan ginjal dipicu oleh penggunaan obat yang sebenarnya mudah ditemukan di apotek.
Risiko tersebut umumnya muncul apabila obat dikonsumsi dalam dosis tinggi, digunakan terlalu lama, atau dikombinasikan tanpa anjuran tenaga kesehatan.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr. Andri Santoso, mengatakan penggunaan obat harus selalu mengikuti aturan pakai karena hampir semua obat diproses oleh hati dan ginjal.
“Obat yang digunakan sesuai dosis umumnya aman. Masalah muncul ketika seseorang mengonsumsi obat melebihi aturan, terlalu sering, atau tanpa pengawasan medis sehingga membebani fungsi ginjal,” ujarnya, kepada JurnalLugas.Com, Jumat 31 Juli 2026.
Salah satu kelompok obat yang paling sering dikaitkan dengan gangguan ginjal adalah obat antinyeri golongan Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID).
Kelompok ini meliputi ibuprofen, diclofenac, ketoprofen, naproxen, hingga asam mefenamat yang umum digunakan untuk mengatasi nyeri sendi, sakit gigi, nyeri haid, maupun sakit kepala.
Obat tersebut bekerja dengan menghambat pembentukan zat pemicu peradangan. Namun, penggunaan jangka panjang dapat mengurangi aliran darah menuju ginjal sehingga kemampuan organ tersebut dalam menyaring darah ikut menurun.
Pada sebagian orang, terutama lansia atau penderita hipertensi dan diabetes, kondisi ini dapat mempercepat kerusakan ginjal.
Selain NSAID, obat pereda nyeri yang mengandung kombinasi beberapa zat aktif juga tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.
Kebiasaan mengonsumsi obat setiap kali muncul keluhan ringan tanpa mengetahui kandungannya justru meningkatkan risiko overdosis maupun gangguan organ.
Kelompok obat antibiotik juga memerlukan perhatian khusus. Antibiotik tertentu memang sangat efektif melawan infeksi bakteri, tetapi penggunaannya harus berdasarkan resep dokter.
Selain memicu resistensi bakteri, beberapa jenis antibiotik dapat memberikan beban tambahan pada ginjal apabila dosisnya tidak disesuaikan dengan kondisi pasien.
Begitu pula obat antijamur, antivirus tertentu, hingga obat kemoterapi yang diketahui memiliki potensi nefrotoksik atau dapat merusak jaringan ginjal apabila tidak dipantau secara ketat oleh tenaga medis.
Tidak hanya obat resep, suplemen herbal dan jamu juga tidak selalu aman apabila dikonsumsi berlebihan. Sebagian produk mengandung bahan kimia obat yang tidak dicantumkan pada kemasan atau memiliki kadar logam berat yang melebihi ambang batas keamanan. Dalam jangka panjang, zat-zat tersebut berpotensi memperberat kerja ginjal.
Fenomena penggunaan obat herbal tanpa izin edar juga masih banyak ditemukan. Padahal, masyarakat sering kali beranggapan bahwa semua produk berbahan alami pasti aman dikonsumsi setiap hari.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar karena keamanan suatu produk tetap bergantung pada komposisi, dosis, dan kualitas produksinya.
Obat penurun asam lambung yang digunakan dalam waktu lama juga mulai mendapat perhatian para peneliti.
Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan jangka panjang obat tertentu dengan meningkatnya risiko gangguan fungsi ginjal pada sebagian pasien.
Meski demikian, bukan berarti obat tersebut harus dihindari, melainkan digunakan sesuai petunjuk dokter.
Hal serupa berlaku pada obat diuretik atau obat pelancar buang air kecil yang sering diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi maupun gagal jantung.
Penggunaan tanpa pengawasan dapat menyebabkan dehidrasi sehingga aliran darah ke ginjal berkurang.
Menurut ahli farmasi klinis apt. Rina Kusumawardhani, masyarakat perlu memahami bahwa efek samping obat bukan berarti obat tersebut berbahaya, melainkan harus digunakan secara tepat.
“Obat memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada risikonya apabila digunakan sesuai indikasi, dosis, dan lama pemakaian yang dianjurkan tenaga kesehatan,” katanya.
Kerusakan ginjal akibat obat sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah fungsi ginjal menurun cukup berat. Karena itu, kewaspadaan menjadi sangat penting.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain tubuh mudah lelah, pembengkakan pada kaki, wajah atau tangan, jumlah urine berkurang, urine berbusa, mual, hilang nafsu makan, hingga tekanan darah yang sulit dikendalikan. Apabila mengalami keluhan tersebut, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan sebaiknya tidak ditunda.
Kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ginjal akibat obat adalah penderita diabetes, hipertensi, penyakit jantung, orang lanjut usia, pasien dengan penyakit ginjal sebelumnya, serta mereka yang rutin mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus.
Untuk menjaga kesehatan ginjal, ada sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan. Pertama, jangan mengonsumsi obat melebihi dosis yang tertera pada kemasan atau resep dokter.
Kedua, hindari membeli antibiotik tanpa resep. Ketiga, pastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi agar ginjal bekerja secara optimal.
Selain itu, lakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala apabila memiliki penyakit kronis atau harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang.
Pemeriksaan sederhana seperti kadar kreatinin darah dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ginjal.
Masyarakat juga disarankan membaca informasi pada kemasan obat, termasuk aturan pakai, kontraindikasi, dan peringatan khusus.
Jangan ragu berkonsultasi kepada dokter atau apoteker apabila memiliki riwayat penyakit tertentu sebelum menggunakan obat apa pun.
Perlu dipahami bahwa obat bukanlah musuh bagi tubuh. Sebaliknya, obat merupakan bagian penting dalam pengobatan berbagai penyakit. Yang menjadi persoalan adalah penggunaan yang tidak rasional, baik karena dosis berlebihan, penggunaan terlalu lama, maupun konsumsi tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Dengan memahami cara penggunaan obat yang benar, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat maksimal dari pengobatan, tetapi juga melindungi organ ginjal agar tetap sehat hingga usia lanjut.
Kesadaran inilah yang perlu terus ditingkatkan mengingat penyakit ginjal kronis masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang jumlah penderitanya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Ikuti informasi kesehatan, gaya hidup sehat, serta berbagai artikel edukatif lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com.
(Wening)






