JurnalLugas.Com Asam urat kerap dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi jeroan. Tak sedikit orang yang percaya bahwa selama menghindari hati, usus, paru, atau limpa, kadar asam urat akan tetap normal.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Faktanya, banyak orang mengalami peningkatan kadar asam urat meski hampir tidak pernah menyentuh makanan tersebut.
Fenomena ini sering membuat penderita bingung. Mereka merasa sudah menjaga pola makan, tetapi hasil pemeriksaan laboratorium justru menunjukkan kadar asam urat berada di atas batas normal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penyebab asam urat tinggi jauh lebih kompleks dibanding sekadar konsumsi makanan tinggi purin.
Asam urat merupakan zat sisa hasil pemecahan purin, yaitu senyawa alami yang terdapat dalam tubuh dan berbagai jenis makanan.
Dalam kondisi normal, asam urat akan larut di dalam darah, kemudian disaring oleh ginjal sebelum dikeluarkan melalui urine.
Masalah muncul ketika produksi asam urat terlalu banyak atau kemampuan ginjal membuangnya menurun. Akibatnya, kadar asam urat meningkat dan membentuk kristal kecil yang dapat menumpuk pada sendi.
Penumpukan kristal inilah yang memicu nyeri hebat, pembengkakan, kemerahan, hingga peradangan yang dikenal sebagai penyakit gout.
Menurut spesialis reumatologi, Prof. Dr. H. R. M. Tjokorda Bagus Oka, asam urat tidak hanya dipengaruhi makanan, tetapi juga fungsi metabolisme tubuh.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar kasus hiperurisemia justru disebabkan oleh menurunnya kemampuan ginjal mengeluarkan asam urat, bukan semata-mata karena seseorang terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi purin.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh pakar kesehatan dari Harvard Medical School yang menyebut pola makan memang berpengaruh, tetapi faktor genetik, obesitas, penyakit penyerta, hingga gaya hidup memiliki kontribusi yang jauh lebih besar terhadap peningkatan kadar asam urat.
Salah satu penyebab utama asam urat tinggi adalah penurunan fungsi ginjal. Organ ini berperan sebagai penyaring utama zat sisa metabolisme.
Ketika kemampuan ginjal menurun, pembuangan asam urat menjadi tidak optimal sehingga kadarnya terus meningkat di dalam darah.
Faktor usia juga memengaruhi proses tersebut. Seiring bertambahnya umur, kemampuan organ tubuh, termasuk ginjal, mengalami penurunan secara alami. Karena itu, risiko hiperurisemia cenderung meningkat pada kelompok usia lanjut meski pola makannya relatif sehat.
Penyebab lain yang sering tidak disadari adalah kelebihan berat badan atau obesitas. Penumpukan lemak dalam tubuh membuat metabolisme bekerja lebih berat sekaligus meningkatkan produksi asam urat.
Selain itu, obesitas juga berkaitan erat dengan resistensi insulin yang dapat menghambat pengeluaran asam urat melalui ginjal.
Konsumsi minuman manis juga menjadi faktor penting. Minuman yang mengandung fruktosa tinggi, seperti minuman bersoda, sirup, teh kemasan, maupun berbagai minuman kekinian, mampu meningkatkan pembentukan asam urat lebih cepat dibanding beberapa jenis makanan.
Ketika fruktosa dimetabolisme di dalam hati, tubuh menggunakan energi dalam jumlah besar sehingga menghasilkan purin yang kemudian berubah menjadi asam urat.
Inilah sebabnya seseorang yang jarang makan jeroan tetapi sering mengonsumsi minuman manis tetap berisiko mengalami kadar asam urat tinggi.
Kurangnya konsumsi air putih juga berpengaruh terhadap kesehatan ginjal. Cairan tubuh yang tidak mencukupi membuat proses penyaringan dan pembuangan asam urat menjadi kurang maksimal.
Karena itu, menjaga kecukupan cairan setiap hari menjadi langkah sederhana namun penting untuk membantu menurunkan risiko penumpukan asam urat.
Selain itu, beberapa jenis makanan lain juga mengandung purin tinggi meski jarang disadari masyarakat. Seafood seperti sarden, ikan teri, kerang, udang, kepiting, serta beberapa jenis ikan laut memiliki kadar purin yang cukup tinggi. Demikian pula daging merah yang dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan produksi asam urat.
Alkohol juga memiliki hubungan erat dengan peningkatan kadar asam urat. Minuman beralkohol dapat menghambat pengeluaran asam urat melalui ginjal sekaligus meningkatkan produksinya di dalam tubuh.
Oleh karena itu, penderita gout umumnya dianjurkan membatasi bahkan menghindari konsumsi alkohol.
Faktor keturunan juga tidak bisa diabaikan. Jika terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat asam urat tinggi, risiko seseorang mengalami kondisi serupa menjadi lebih besar.
Gen tertentu memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur proses pembuangan asam urat sehingga kadar zat tersebut lebih mudah meningkat.
Beberapa penyakit kronis turut menjadi pemicu. Hipertensi, diabetes melitus, penyakit ginjal kronis, sindrom metabolik, hingga gangguan tiroid dapat meningkatkan risiko hiperurisemia.
Karena itu, pengendalian penyakit penyerta menjadi bagian penting dalam menjaga kadar asam urat tetap stabil.
Tidak hanya penyakit, beberapa jenis obat-obatan juga diketahui dapat meningkatkan kadar asam urat. Di antaranya obat diuretik untuk hipertensi, aspirin dosis rendah, hingga beberapa obat imunosupresan.
Penggunaan obat tersebut sebaiknya tetap mengikuti petunjuk dokter dan tidak dihentikan tanpa konsultasi terlebih dahulu.
Kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor lain yang sering luput dari perhatian. Gaya hidup sedentari menyebabkan metabolisme tubuh melambat dan meningkatkan risiko obesitas.
Sebaliknya, olahraga teratur membantu menjaga berat badan ideal sekaligus meningkatkan sensitivitas insulin yang berpengaruh terhadap metabolisme asam urat.
Meski demikian, olahraga yang terlalu berat secara mendadak juga tidak dianjurkan bagi penderita asam urat aktif karena dapat memicu stres metabolik sementara. Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Lalu bagaimana cara menjaga kadar asam urat tetap normal?
Langkah pertama adalah menerapkan pola makan seimbang. Mengurangi makanan tinggi purin memang penting, tetapi lebih penting lagi membatasi konsumsi gula tambahan, minuman manis, serta makanan ultra-proses yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh.
Perbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan rendah gula, biji-bijian utuh, serta protein sehat seperti telur atau ikan dengan kandungan purin yang lebih rendah. Produk susu rendah lemak juga dilaporkan memiliki efek protektif terhadap risiko asam urat.
Menjaga berat badan ideal menjadi langkah berikutnya. Penurunan berat badan secara bertahap terbukti membantu menurunkan kadar asam urat dalam darah.
Namun, diet ekstrem tidak disarankan karena justru dapat meningkatkan pemecahan jaringan tubuh sehingga produksi asam urat meningkat.
Memenuhi kebutuhan cairan harian juga tidak kalah penting. Minum air putih dalam jumlah cukup membantu ginjal membuang asam urat melalui urine sehingga mengurangi risiko pembentukan kristal pada persendian.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit asam urat, hipertensi, diabetes, atau gangguan ginjal.
Deteksi dini memungkinkan penanganan dilakukan sebelum muncul serangan nyeri yang mengganggu aktivitas.
Apabila kadar asam urat sudah tinggi disertai gejala berulang, dokter dapat memberikan terapi penurun asam urat sesuai kondisi pasien.
Pengobatan tidak hanya bertujuan meredakan nyeri, tetapi juga mencegah kerusakan sendi, pembentukan batu ginjal, dan komplikasi jangka panjang lainnya.
Kesimpulannya, penyebab asam urat tinggi tidak hanya berasal dari kebiasaan makan jeroan. Gangguan fungsi ginjal, obesitas, konsumsi minuman tinggi gula, faktor genetik, penyakit kronis, kurang minum air putih, hingga gaya hidup kurang aktif memiliki peran yang sama pentingnya.
Oleh karena itu, menjaga kadar asam urat membutuhkan pendekatan yang menyeluruh melalui pola makan sehat, olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Dengan memahami penyebab sebenarnya, masyarakat tidak lagi hanya berfokus menghindari jeroan, tetapi juga memperbaiki gaya hidup secara keseluruhan agar kesehatan sendi dan metabolisme tubuh tetap terjaga hingga usia lanjut.
Baca artikel kesehatan, teknologi, ekonomi, dan informasi terkini lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com.
(Wening)






