JurnalLugas.Com — Iran menyebut sejumlah negara tetangga mulai membuka komunikasi mengenai gagasan membangun pola keamanan baru sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi di kawasan Timur Tengah.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan pesan tersebut datang dari berbagai negara di sekitar Iran. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di platform X pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Menurut Qalibaf, perkembangan tersebut menunjukkan adanya dorongan untuk membangun mekanisme kawasan yang lebih mandiri. Ia menilai ketergantungan terhadap kekuatan eksternal justru dapat meningkatkan risiko keamanan bagi negara-negara di Timur Tengah.
“Keamanan kawasan harus dibangun secara mandiri agar perdamaian dan stabilitas dapat terwujud,” ujar Qalibaf.
Qalibaf juga menuding kebijakan Amerika Serikat menempatkan keamanan sejumlah negara sekutunya dalam posisi rentan. Ia menilai Washington terlalu mengutamakan kepentingan Israel dibandingkan kepentingan negara-negara lain di kawasan.
Pernyataan tersebut muncul setelah konflik antara Iran, Israel dan Amerika Serikat kembali meningkatkan ketegangan Timur Tengah.
Serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan.
Situasi itu ikut memunculkan kekhawatiran negara-negara Teluk Arab. Sejumlah laporan yang mengutip pejabat regional menyebut terdapat kekecewaan terhadap Washington karena dinilai mengambil langkah militer tanpa memberikan jaminan keamanan yang cukup kepada mitranya di kawasan.
Di tengah kondisi tersebut, gagasan mengenai arsitektur keamanan yang lebih bertumpu pada negara-negara Timur Tengah kembali mengemuka.
Bagi Iran, kerja sama keamanan dan ekonomi antarnegeri kawasan dinilai dapat menjadi jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan luar.
Namun, realisasinya tetap bergantung pada kesediaan negara-negara di kawasan untuk membangun mekanisme bersama di tengah perbedaan kepentingan yang masih tajam.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya berkaitan dengan operasi militer, tetapi juga mulai mendorong pembicaraan mengenai arah baru hubungan keamanan dan ekonomi Timur Tengah.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Handoko)






