JurnalLugas.Com — Iran menyatakan belum melihat kebutuhan untuk mengubah pola pertempurannya ke metode perang asimetris, meski opsi tersebut disebut tetap tersedia apabila situasi berkembang.
Penasihat senior komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Mohammad Reza Naqdi, mengatakan militer Iran saat ini masih mengandalkan pola perang konvensional.
Pernyataan itu disampaikan Naqdi dalam wawancara dengan stasiun televisi Lebanon Al-Mayadeen, Senin, 31 Agustus 2026.
Menurutnya, Iran masih mampu menjaga keamanan dengan mengandalkan sejumlah kemampuan militer yang selama ini digunakan, terutama drone dan rudal.
“Belum diperlukan perubahan strategi karena keamanan masih dapat dijaga dengan drone dan rudal,” ujar Naqdi, seperti dikutip dari wawancaranya.
Naqdi menyebut perang asimetris baru akan dipertimbangkan apabila keadaan menuntut penggunaan metode tersebut.
Ia menggambarkannya sebagai pola konflik yang dapat berlangsung di berbagai lokasi dan waktu dengan kemampuan yang belum dikerahkan.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Agustus menyatakan akan menerapkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui kebijakan yang disebutnya sebagai isolasi dalam skala besar.
Trump juga meminta negara-negara sekutu Amerika Serikat ikut mendukung tekanan tersebut.
Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi itu, Iran menunjukkan bahwa kemampuan militernya masih menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan konflik.
Namun, untuk saat ini, Tehran menyatakan belum menganggap perang asimetris sebagai pilihan utama.
Bagi Iran, perubahan metode tempur bukan sekadar keputusan taktis. Pilihan tersebut akan bergantung pada perkembangan ancaman dan kebutuhan di lapangan.
Baca berita terbaru dan informasi aktual lainnya di JurnalLugas.Com.
(Handoko)






