JurnalLugas.Com — Investasi emas sering dianggap sederhana: membeli saat harga rendah, menyimpannya, kemudian menjual ketika nilainya naik. Namun, menghitung potensi keuntungan emas tidak cukup hanya dengan melihat kenaikan harga.
Ada selisih antara harga beli dan harga jual kembali atau buyback yang perlu diperhitungkan sejak awal. Selisih inilah yang membuat seseorang belum tentu langsung untung meski harga emas sudah naik.
ANTAM Logam Mulia menjelaskan bahwa perbedaan harga beli dan buyback dikenal sebagai spread. Karena itu, investor perlu melihat harga buyback ketika menghitung potensi keuntungan, bukan hanya harga emas yang terpampang saat membeli.
Rumus Sederhana Menghitung Keuntungan Emas
Cara paling mudah adalah membandingkan modal pembelian dengan nilai buyback saat emas dijual.
Potensi keuntungan = nilai buyback – modal pembelian
Sedangkan persentase keuntungannya dapat dihitung dengan rumus:
Persentase keuntungan = (nilai buyback – modal pembelian) ÷ modal pembelian × 100 persen
Sebagai contoh, seseorang membeli emas seberat 5 gram dengan total modal Rp10 juta. Beberapa waktu kemudian, harga buyback membuat nilai emas tersebut menjadi Rp11,5 juta.
Maka potensi keuntungan kotor:
Rp11,5 juta – Rp10 juta = Rp1,5 juta
Persentasenya:
Rp1,5 juta ÷ Rp10 juta × 100 persen = 15 persen
Artinya, secara sederhana investasi tersebut menghasilkan potensi keuntungan kotor sebesar 15 persen.
Namun, angka tersebut belum tentu menjadi keuntungan bersih karena transaksi jual kembali dapat memiliki ketentuan biaya dan pajak tertentu.
Jangan Lupakan Spread Harga
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menghitung keuntungan dengan membandingkan harga beli lama dengan harga jual emas terbaru.
Padahal, ketika investor ingin mencairkan emas, acuan yang relevan adalah harga buyback pada saat transaksi dilakukan. Harga jual emas dan harga buyback memang berbeda. ANTAM juga menegaskan bahwa harga buyback mengikuti harga yang berlaku pada hari transaksi.
Karena itu, emas yang baru dibeli kemudian langsung dijual kembali berpotensi menghasilkan nilai lebih rendah. Investor harus menunggu kenaikan harga yang cukup untuk melewati spread tersebut.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya kenaikan harga, tetapi apakah harga buyback sudah melewati harga beli.” kepada JurnalLugas.Com, Selasa 01 September 2026.
Prinsip tersebut penting bagi investor pemula agar tidak menganggap setiap kenaikan harga emas otomatis berarti sudah memperoleh keuntungan.
Contoh Perhitungan yang Lebih Realistis
Misalnya modal pembelian emas adalah Rp15 juta.
Ketika hendak dijual beberapa waktu kemudian, nilai berdasarkan harga buyback mencapai Rp17 juta.
Maka:
Keuntungan kotor = Rp17 juta – Rp15 juta = Rp2 juta
Persentase keuntungan = Rp2 juta ÷ Rp15 juta × 100 persen = 13,33 persen
Jika terdapat pajak, biaya administrasi, atau biaya lain yang berlaku pada transaksi tersebut, pengeluaran tersebut perlu dikurangi untuk mendapatkan gambaran keuntungan bersih.
Dalam layanan buyback ANTAM, misalnya, transaksi dengan nilai di atas Rp10 juta memiliki ketentuan PPh Pasal 22 yang dipotong dari nilai transaksi sesuai aturan yang tercantum pada layanan resminya.
Mengapa Waktu Investasi Penting?
Emas lebih tepat dilihat sebagai aset untuk tujuan jangka menengah hingga panjang. Salah satu alasannya adalah adanya spread antara harga pembelian dan buyback.
Investor yang terburu-buru menjual ketika kenaikan harga belum cukup melewati spread justru dapat memperoleh hasil yang kurang optimal.
ANTAM sebelumnya juga menyebut investasi emas lebih sesuai untuk tujuan jangka menengah dan panjang karena pergerakan nilainya tidak selalu cepat.
Karena itu, sebelum membeli emas, tentukan terlebih dahulu tujuan keuangannya. Apakah untuk dana pendidikan, membeli rumah, persiapan pensiun, atau sekadar menyimpan sebagian kekayaan.
Yang tidak kalah penting, jangan menjadikan keuntungan masa lalu sebagai jaminan bahwa harga emas akan terus naik. Harga emas dapat berubah mengikuti kondisi pasar global dan faktor ekonomi lainnya.
Bagi masyarakat yang baru memulai, menghitung potensi keuntungan dengan sederhana justru dapat membantu mengambil keputusan secara lebih rasional. Modal, harga beli, spread, harga buyback, waktu penyimpanan, serta biaya transaksi harus dilihat sebagai satu kesatuan.
Dengan cara tersebut, investasi emas tidak hanya dilakukan karena mengikuti tren, tetapi berdasarkan perhitungan yang lebih masuk akal.
Baca berita lainnya JurnalLugas.Com
JurnalLugas.Com
(Endarto)






