JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial terkait masa depan Irlandia Utara. Saat berada di Irlandia, Trump menyebut penyatuan Irlandia dengan Irlandia Utara sebagai sesuatu yang menurutnya sangat alami.
Trump bahkan menilai pembagian wilayah yang berlangsung secara historis itu pada akhirnya akan berujung pada penyatuan.
“Saya selalu mencintai rakyat Irlandia. Menurut saya, menyatukan keduanya merupakan sesuatu yang sangat alami,” kata Trump kepada wartawan, Minggu (13/9).
Trump juga mengklaim banyak pihak memiliki pandangan serupa. Pernyataan tersebut mempertegas dukungannya terhadap gagasan terbentuknya satu Irlandia, setelah sehari sebelumnya ia mengatakan akan senang jika Irlandia bersatu.
Namun, pemerintah Inggris belum melihat kondisi yang memungkinkan untuk menggelar referendum mengenai perubahan status Irlandia Utara.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham sebelumnya menegaskan bahwa referendum penyatuan Irlandia belum menjadi agenda selama belum terdapat dukungan mayoritas yang jelas di Irlandia Utara. Sikap itu mengacu pada mekanisme yang diatur dalam Good Friday Agreement 1998.
Burnham juga menegaskan komitmennya terhadap perjanjian tersebut. Dalam perkembangan terbaru, ia menyatakan bahwa referendum dapat dipertimbangkan apabila opini publik di Irlandia Utara berubah secara signifikan dan terdapat konsensus yang jelas.
Trump tampaknya tidak terlalu mempersoalkan sikap London tersebut. Ia menyiratkan bahwa perubahan politik dapat terjadi meski pemerintah Inggris saat ini belum membuka jalan menuju referendum.
Pernyataan Trump menjadi sensitif karena status Irlandia Utara merupakan persoalan politik dan identitas yang telah lama membelah masyarakat di kawasan tersebut.
Good Friday Agreement menjadi fondasi penting dalam menjaga perdamaian sekaligus memberikan jalur demokratis apabila suatu saat mayoritas masyarakat menghendaki perubahan status.
Di tengah polemik itu, para pemimpin Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara juga dijadwalkan bertemu di Cardiff untuk membahas kerja sama serta masa depan konstitusional wilayah masing-masing. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa isu mengenai hubungan antara wilayah-wilayah Britania Raya dan London kembali menjadi perhatian politik.
Trump juga membawa isu energi dalam kunjungannya. Ia mendesak Inggris memanfaatkan cadangan minyak dan gas di Laut Utara serta mengkritik kebijakan energi terbarukan.
Menurut Trump, pengembangan sumber energi fosil di Laut Utara dapat memperkuat perekonomian Inggris. Ia bahkan memperingatkan bahwa Inggris berisiko menghadapi tekanan ekonomi apabila tidak memanfaatkan sumber daya tersebut.
Pernyataan itu memperlihatkan dua isu besar yang dibawa Trump dalam kunjungannya, yakni masa depan politik Irlandia dan arah kebijakan energi Inggris.
Dukungan terbuka Trump terhadap penyatuan Irlandia diperkirakan akan terus memicu perdebatan, terutama di kalangan kelompok yang mempertahankan Irlandia Utara tetap berada dalam wilayah Inggris.
Di sisi lain, kelompok nasionalis Irlandia melihat isu referendum sebagai bagian dari hak politik yang telah diakui dalam Good Friday Agreement.
Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada perubahan opini publik di Irlandia Utara. Tanpa dukungan mayoritas yang jelas, pemerintah Inggris belum memiliki dasar politik untuk mendorong referendum penyatuan.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Dahlan)






