JurnalLugas.Com – Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Washington telah menguasai Selat Hormuz.
Wakil Urusan Politik Angkatan Laut IRGC Kolonel Ali Mohammadi justru menegaskan pasukan Iran masih memantau ketat jalur perairan strategis tersebut. Ia bahkan menantang Amerika Serikat mendekatkan kapal perangnya ke kawasan Selat Hormuz.
Mohammadi mengatakan kapal militer AS akan menghadapi respons jika memasuki wilayah yang diawasi pasukan Iran.
“Jika AS yakin menguasainya, silakan mendekatkan kapal perang,” ujar Mohammadi, Minggu (13/9/2026).
Menurut dia, IRGC memiliki pengawasan penuh terhadap Selat Hormuz, kawasan Teluk dan Teluk Oman. Kapal yang melintas dari sejumlah negara Teluk juga disebut berada dalam pemantauan pasukan Iran.
IRGC turut mengklaim sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Teluk sudah tidak beroperasi. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Pernyataan Iran ini berseberangan langsung dengan klaim Trump. Presiden AS tersebut sebelumnya beberapa kali menyatakan Amerika telah mengambil kendali atas Selat Hormuz setelah konflik dengan Iran meningkat.
Trump bahkan menyebut pasukan AS telah menyerang puluhan kapal dan perahu Iran. Ia juga sempat melontarkan gagasan untuk mengganti nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump”.
Selat Hormuz menjadi titik penting karena menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini merupakan salah satu lintasan utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke pasar internasional.
Karena itu, perselisihan mengenai siapa yang menguasai dan menjamin keamanan pelayaran di kawasan tersebut bukan sekadar persoalan militer. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi berdampak pada perdagangan energi dan pasokan minyak dunia.
Untuk saat ini, klaim Iran maupun Amerika Serikat mengenai kondisi militer dan penguasaan Selat Hormuz masih belum bisa dipastikan secara independen.
Perkembangan berikutnya akan menjadi perhatian dunia karena setiap eskalasi di jalur tersebut dapat membawa konsekuensi lebih luas bagi keamanan kawasan dan ekonomi global.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Handoko)






