Dedi Mulyadi Is this Indonesia’s Next President, KDM Punya Modal Politik 2029

Jurnallugas.Com — Popularitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mulai mendapat perhatian media internasional. Financial Times (FT) menyoroti peningkatan popularitas Dedi yang berkembang melalui aktivitasnya di media sosial dan mengaitkannya dengan peta politik menuju Pilpres 2029.

Dalam laporan berjudul Is this Indonesia’s next president?, FT membahas bagaimana Dedi membangun kedekatan dengan masyarakat melalui aktivitas yang rutin ditampilkan di media sosial.

Bacaan Lainnya

Dedi kerap terlihat bertemu warga, merespons persoalan di lapangan, menjelaskan kebijakan hingga memberikan bantuan. Pola komunikasi tersebut membuat jangkauan popularitasnya tidak hanya berada di Jawa Barat.

Media Inggris itu juga mencatat Dedi sebagai figur yang memiliki gaya komunikasi berbeda. Aktivitasnya yang sangat intens di media sosial bahkan membuatnya mendapat julukan “Content Governor”, meski pada saat yang sama muncul kritik bahwa aktivitas digital tersebut perlu tetap diimbangi dengan kinerja pemerintahan.

Baca Juga  Gubernur Terpilih Jabar Dedi Mulyadi Tolak Mobil Dinas Baru

Sorotan FT tidak berhenti pada popularitas. Sejumlah survei yang dikutip media tersebut menunjukkan nama Dedi mulai masuk dalam pembicaraan mengenai kandidat Pilpres 2029.

Namun, posisi itu belum berarti Dedi telah menyatakan diri untuk maju. Hingga kini, ia belum mengumumkan keinginan menjadi calon presiden.

Dedi justru memberikan jawaban singkat ketika ditanya mengenai isu Pilpres 2029.

Ia menegaskan perhatian utamanya masih menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat.

“Kita lagi mikir bagaimana jadi gubernur yang sukses. Tidak mikir yang lain,” ujar Dedi di Gedung Pakuan, Bandung, Selasa, 22 September 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Dedi belum membuka agenda politik menuju Pilpres 2029 secara terbuka.

Di sisi lain, meningkatnya perhatian terhadap dirinya membuat rekam jejak pemerintahan Dedi di Jawa Barat menjadi semakin penting.

Popularitas yang dibangun melalui media sosial pada akhirnya akan berhadapan dengan penilaian publik terhadap kebijakan dan hasil kerja pemerintahannya.

FT juga menyoroti sejumlah kebijakan Dedi yang pernah menuai perdebatan, termasuk gagasan mengenai penanganan anak bermasalah melalui lingkungan militer dan usulan vasektomi bagi penerima bantuan pemerintah dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Karena itu, pembicaraan mengenai Dedi dan Pilpres 2029 saat ini masih berada pada tahap meningkatnya perhatian publik, bukan kepastian pencalonan.

Bagi Dedi, panggung politik nasional belum menjadi agenda yang ia nyatakan. Fokus yang disampaikan justru tetap pada pekerjaannya sebagai Gubernur Jawa Barat.

Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait