Elektabilitas Gibran Ungguli AHY dan Prabowo, Ini Respons Jokowi

JurnalLugas.Com – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menempatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di posisi teratas dalam simulasi tiga tokoh calon presiden.

Jokowi mengingatkan bahwa angka elektabilitas dalam survei tidak bisa dijadikan gambaran permanen mengenai kekuatan politik seseorang. Menurutnya, tingkat dukungan masyarakat dapat berubah mengikuti perkembangan situasi dan waktu.

Bacaan Lainnya

Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat ditemui wartawan di kediamannya, Jalan Kutai Utara, Sumber, Solo, Kamis (29/10/2026).

“Survei itu hanya menggambarkan pendapat masyarakat pada satu waktu, sehingga hasilnya tidak bisa langsung dianggap sebagai kesimpulan akhir,” ujar Jokowi.

Dalam survei SMRC periode 1–10 Oktober 2026, Gibran memperoleh elektabilitas 29,7 persen. Angka tersebut berada di atas Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang meraih 28,2 persen.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto memperoleh dukungan 22,7 persen dalam simulasi yang melibatkan tiga nama tersebut.

Meski Gibran berada di posisi pertama, Jokowi belum bersedia memberikan penilaian mengenai faktor yang memengaruhi kenaikan dukungan terhadap putranya. Ia meminta hasil survei dibaca secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan.

“Saya belum melihat secara detail hasil surveinya,” kata Jokowi.

Ketika ditanya apakah peningkatan elektabilitas Gibran berkaitan dengan polemik ijazah maupun desakan agar dirinya mundur dari jabatan wakil presiden, Jokowi tidak mengaitkan secara langsung kedua persoalan tersebut dengan hasil survei.

Ia menilai perubahan tingkat keterpilihan seorang tokoh dapat dipengaruhi berbagai faktor.

“Banyak faktor yang bisa membuat elektabilitas seseorang naik ataupun turun,” ujarnya.

AHY Unggul dalam Simulasi Dua Nama

Di luar simulasi tiga tokoh, SMRC juga menguji persaingan langsung antara Gibran dan AHY apabila keduanya berhadapan dalam pemilihan presiden.

Hasilnya menunjukkan AHY memperoleh dukungan 41,6 persen, sedangkan Gibran berada di angka 36 persen. Sebanyak 22,4 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menjelaskan, tingkat pengenalan masyarakat terhadap kedua tokoh masih berbeda cukup jauh.

Gibran telah dikenal oleh 97 persen responden, sedangkan AHY baru dikenal sekitar 70 persen masyarakat. Prabowo memiliki tingkat pengenalan paling tinggi, yakni 99 persen.

Namun, tingginya popularitas Gibran belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesukaan masyarakat.

Dari responden yang mengenal AHY, sebanyak 77 persen menyatakan menyukainya dan 14 persen tidak suka. Sementara Gibran memperoleh tingkat kesukaan 66 persen, dengan 29 persen responden menyatakan tidak suka.

Perbedaan tersebut semakin terlihat ketika analisis dibatasi pada responden yang mengetahui kedua tokoh.

Dalam kelompok ini, AHY memperoleh dukungan 51,1 persen, sementara Gibran hanya 28,7 persen. Adapun 20,3 persen responden belum menentukan pilihan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa posisi teratas dalam simulasi tiga nama tidak otomatis menjamin kemenangan ketika persaingan dipersempit menjadi dua kandidat.

Metodologi Survei SMRC

Survei bertajuk “Efek Tahu Gibran dan AHY pada Elektabilitas Mereka” dilaksanakan pada 1–10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih.

Responden terdiri dari 1.013 pemilik telepon seluler yang dipilih menggunakan metode double sampling dan diwawancarai melalui sambungan telepon.

Sementara 200 responden tanpa telepon seluler dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling melalui wawancara tatap muka.

Populasi survei mencakup warga negara Indonesia berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah ketika penelitian berlangsung.

SMRC memperkirakan margin of error survei sebesar kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi pengambilan sampel acak sederhana.

Hasil survei ini memberikan gambaran bahwa elektabilitas, popularitas, dan tingkat kesukaan merupakan indikator berbeda dalam mengukur posisi politik seorang tokoh.

Karena itu, angka dukungan dalam satu simulasi belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan peluang politik para tokoh yang diuji.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Soefriyanto news)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Prabowo Undang Jokowi ke Istana Malam Ini, Intip Agendanya

Pos terkait