Prancis Izinkan Pesawat Netanyahu Lewati Wilayah Udara, Tuai Kritik

JurnalLugas.Com — Prancis kembali mengizinkan pesawat yang membawa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melintasi wilayah udaranya dalam perjalanan menuju New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Informasi tersebut disampaikan seorang sumber diplomatik dan dilaporkan kantor berita Anadolu. Pesawat Netanyahu diketahui melintas pada Selasa (22/9), di tengah sorotan terhadap status hukum Perdana Menteri Israel tersebut.

Bacaan Lainnya

Keputusan Prancis itu langsung mendapat kritik dari anggota Parlemen Eropa asal Prancis, Emma Fourreau. Ia menilai pemerintah Prancis seharusnya mempertimbangkan keberadaan surat perintah penangkapan yang diterbitkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Fourreau menyebut keputusan tersebut bukan kali pertama. Menurutnya, pesawat Netanyahu sebelumnya juga pernah melintasi wilayah udara Prancis pada Juli 2026, serta Februari, April, dan Juli 2025.

Ia mempertanyakan sikap pemerintah Prancis di bawah Presiden Emmanuel Macron karena kembali memberikan izin penerbangan kepada Netanyahu untuk menghadiri agenda PBB.

ICC pada November 2024 menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant. Surat tersebut berkaitan dengan dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Baca Juga  Zionis Israel Bunuh 73.058 Waga Gaza, Ratusan Ribu Terluka

Kunjungan Netanyahu ke AS Dipangkas

Kunjungan Netanyahu ke Amerika Serikat kali ini juga dilaporkan berlangsung lebih singkat dibanding rencana sebelumnya.

Menurut laporan Roya News, Netanyahu diperkirakan tiba di New York pada Kamis (24/9) pagi. Ia kemudian dijadwalkan menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB sekitar pukul 14.00 waktu setempat.

Setelah pidato, Netanyahu direncanakan langsung meninggalkan Amerika Serikat pada malam hari tanpa menginap.

Pemangkasan agenda tersebut membuat Netanyahu tidak dijadwalkan bertemu Presiden Donald Trump. Trump disebut akan meninggalkan New York lebih awal. Rencana Netanyahu untuk singgah di Texas dan bertemu Elon Musk juga dibatalkan.

Di sekitar markas PBB dan hotel tempat Netanyahu berada, aksi protes diperkirakan berlangsung. Pada saat yang sama, kelompok pro-Israel dari komunitas Yahudi di New York juga dilaporkan menyiapkan aksi tandingan.

Materi pidato Netanyahu diperkirakan banyak menyoroti ancaman Iran. Para pembantunya bahkan menyebut pidato tersebut akan membawa sejumlah hal yang mereka sebut sebagai “kejutan”.

Setelah seluruh agenda selesai, Netanyahu dijadwalkan kembali ke Israel sebelum dimulainya hari raya Yahudi, Sukkot.

Pesawat Netanyahu Hindari Bandara JFK

Perhatian lain muncul terkait lokasi pendaratan pesawat resmi Perdana Menteri Israel, Wing of Zion.

Media Israel Ynet melaporkan pesawat tersebut tidak akan mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), New York. Salah satu pertimbangannya adalah kekhawatiran terhadap kemungkinan gangguan selama pesawat berada di bandara.

Baca Juga  Netanyahu Masuk Gunung Hermon, Suriah Murka, Israel Langgar Kedaulatan

Sejumlah alternatif disebut sedang dipertimbangkan, termasuk Bandara Internasional Newark Liberty di New Jersey atau pangkalan udara militer di wilayah sekitar.

Kekhawatiran itu dikaitkan dengan sikap Wali Kota New York Zohran Mamdani yang secara terbuka menentang kehadiran Netanyahu.

Dalam pernyataan sebelumnya, Mamdani mengatakan Netanyahu tidak diterima di New York dan menyatakan keinginannya menangkap Perdana Menteri Israel tersebut jika datang ke kota itu.

Namun, Mamdani juga mengakui bahwa pemerintah kota New York tidak memiliki kewenangan hukum untuk menjalankan surat perintah penangkapan ICC. Ia menyatakan kewenangan tersebut berada pada pemerintah federal.

Rangkaian peristiwa ini membuat perjalanan Netanyahu ke Amerika Serikat tidak hanya menjadi agenda diplomatik di forum PBB.

Rute penerbangan, lokasi pendaratan, hingga potensi aksi protes turut menjadi perhatian di tengah kontroversi mengenai status hukum dan kebijakan Israel di Gaza.

Baca berita terkini dan informasi aktual lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait