JurnalLugas.Com — Joko Widodo akhirnya membuka secara terang-terangan status politiknya. Mantan Presiden RI itu mengungkap telah menjadi anggota Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sejak 14 Oktober 2025.
Pengakuan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah PSI di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 26 September 2026. Ia bahkan menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PSI di hadapan kader dan publik.
Jokowi menyebut keanggotaannya di PSI sudah berlangsung hampir setahun sebelum diumumkan secara terbuka.
Langkah itu sekaligus mengakhiri spekulasi mengenai partai politik yang menjadi tempat berlabuhnya setelah hubungan politiknya dengan PDI Perjuangan berakhir.
Bergabungnya Jokowi tidak hanya berkaitan dengan posisi pribadi. Langkah tersebut membuat PSI memiliki figur politik nasional dengan pengalaman dua periode memimpin Indonesia, sementara partai itu sendiri masih berupaya mendapatkan kursi di DPR pada Pemilu 2029.
PSI belum berhasil menembus parlemen dalam Pemilu 2019 dan 2024. Pada Pemilu 2024, partai yang kini dipimpin Kaesang Pangarep itu memperoleh sekitar 2,8 persen suara nasional, masih di bawah ambang batas parlemen 4 persen.
Karena itu, Jokowi meminta kader PSI memperkuat mesin politik dan memperluas jaringan hingga ke masyarakat.
Targetnya bukan sekadar membangun struktur organisasi, tetapi memastikan PSI mampu masuk ke parlemen pada 2029.
Peneliti politik BRIN Wasisto Raharjo Jati menilai kehadiran Jokowi memberikan PSI kendaraan politik yang dapat digunakan untuk membangun kekuatan menghadapi Pemilu 2029.
“Jokowi kini punya wadah untuk menjaga pengaruh politik sekaligus fokus pada target 2029,” kata Wasisto, Rabu 30 September 2026.
Gibran dan Kaesang dalam Peta Politik
Masuknya Jokowi ke PSI juga membawa konsekuensi terhadap posisi politik dua putranya, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep.
Kaesang saat ini menjadi Ketua Umum PSI. Sementara Gibran merupakan Wakil Presiden RI dan hingga kini belum diketahui bergabung dengan partai politik setelah meninggalkan PDI Perjuangan.
Menurut Wasisto, situasi tersebut membuka kemungkinan Gibran mengikuti langkah ayahnya masuk PSI.
Namun, perkembangan itu tetap bergantung pada dinamika politik menjelang 2029.
Jokowi sebelumnya juga telah menyatakan dukungan agar Prabowo Subianto dan Gibran kembali berpasangan pada Pilpres 2029.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa agenda politik Jokowi tidak hanya menyangkut masa depan PSI, tetapi juga keberlanjutan karier politik keluarganya.
Meski demikian, konfigurasi politik menuju 2029 masih dapat berubah. Posisi partai, koalisi, dan calon pasangan presiden belum bersifat final.
Persoalan terbesar kini adalah membuktikan apakah masuknya Jokowi dapat diterjemahkan menjadi kekuatan elektoral.
Bagi Jokowi, bergabungnya dengan PSI sekaligus menandai perubahan fase dari mantan presiden menjadi aktor politik partai secara terbuka.
Perjalanan menuju Pemilu 2029 masih panjang. Namun, dengan Jokowi resmi menjadi bagian dari PSI, peta politik keluarga Jokowi dan partai tersebut kini semakin terbuka untuk menjadi bagian dari persaingan politik nasional.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Soefriyanto news)






