JurnalLugas.Com – PT Indika Energy Tbk mencatatkan perbaikan kinerja keuangan hingga kuartal III 2026. Emiten berkode saham INDY tersebut membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 20,2 juta dolar AS, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,5 juta dolar AS.
Peningkatan laba tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan pendapatan perusahaan. Hingga akhir September 2026, pendapatan Indika Energy mencapai 1.842,3 juta dolar AS atau naik 27,7 persen dibandingkan periode Januari-September 2025 sebesar 1.443 juta dolar AS.
Direktur Utama sekaligus Group CEO Indika Energy, Azis Armand, mengatakan penguatan kinerja terlihat dari pertumbuhan pendapatan, laba kotor, hingga adjusted EBITDA perusahaan.
“Kinerja hingga kuartal III memperlihatkan penguatan operasional melalui peningkatan sejumlah indikator keuangan,” kata Azis dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 01 November 2026.
Di tengah perbaikan bisnis tersebut, Indika Energy mulai memperbesar porsi investasi pada sektor di luar batu bara. Strategi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun sumber pendapatan baru sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bisnis yang selama ini menjadi penopang utama.
Kideco masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar
Dari sejumlah lini usaha, Kideco Jaya Agung masih memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan konsolidasian Indika Energy.
Pendapatan Kideco mencapai 1.345,6 juta dolar AS, tumbuh 16,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan harga jual rata-rata batu bara sebesar 14 persen menjadi 56,3 dolar AS per ton. Volume penjualan juga bertambah 496 ribu ton atau 2,2 persen menjadi 22,6 juta ton.
Kontribusi pertumbuhan juga datang dari Indika Indonesia Resources (IIR). Pendapatannya meningkat 94,7 persen menjadi 91,9 juta dolar AS.
Peningkatan tersebut sejalan dengan lonjakan volume perdagangan batu bara yang mencapai 966 ribu ton pada kuartal III 2026, dibandingkan 465 ribu ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, bisnis jasa rekayasa dan konstruksi melalui Tripatra mencatat pendapatan 289,7 juta dolar AS, meningkat 64,4 persen.
Interport Mandiri Utama juga membukukan pertumbuhan pendapatan 47,4 persen menjadi 137,2 juta dolar AS. Kenaikan kedua lini usaha tersebut terutama ditopang perkembangan bisnis perdagangan bahan bakar.
Laba operasional tumbuh lebih cepat
Pertumbuhan pendapatan turut mendorong peningkatan keuntungan operasional Indika Energy.
Laba kotor perusahaan naik 44,6 persen menjadi 280,1 juta dolar AS. Dengan capaian tersebut, margin laba kotor konsolidasian meningkat menjadi 15,2 persen.
Laba usaha bahkan tumbuh 92,6 persen menjadi 155,9 juta dolar AS, dengan margin mencapai 8,5 persen.
Di sisi lain, beban pokok kontrak dan penjualan juga meningkat 25,1 persen menjadi 1.562,2 juta dolar AS.
Kontribusi laba bersih dari entitas asosiasi bertambah menjadi 11 juta dolar AS dari sebelumnya 8,7 juta dolar AS. Peningkatan tersebut terutama didukung oleh kontribusi Cirebon Energi Prasarana (CEPR).
Perseroan juga mencatat beban keuangan sebesar 51,6 juta dolar AS. Selain itu, terdapat kerugian selisih kurs 9,8 juta dolar AS yang terutama dipengaruhi pelemahan rupiah.
Dari jumlah tersebut, sekitar 7,1 juta dolar AS merupakan kerugian yang belum terealisasi atau bersifat nontunai.
Adapun adjusted EBITDA meningkat 36,8 persen menjadi 212,9 juta dolar AS dibandingkan 155,6 juta dolar AS pada periode Januari-September 2025. Margin adjusted EBITDA juga naik dari 10,8 persen menjadi 11,6 persen.
Untuk periode 12 bulan terakhir hingga 30 September 2026, adjusted EBITDA Indika Energy tercatat mencapai 277,9 juta dolar AS.
Hampir seluruh belanja modal diarahkan ke bisnis nonbatu bara
Di balik pertumbuhan kinerja keuangan, langkah diversifikasi menjadi salah satu agenda utama Indika Energy.
Hingga akhir September 2026, perusahaan mengalokasikan 148,5 juta dolar AS untuk bisnis nonbatu bara. Jumlah tersebut setara 97,9 persen dari total belanja modal yang mencapai 151,7 juta dolar AS.
Porsi terbesar investasi diarahkan ke proyek Awak Mas dengan nilai 127,6 juta dolar AS atau sekitar 84,1 persen dari keseluruhan belanja modal.
Proyek tersebut merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru yang tengah dikembangkan perusahaan di luar bisnis batu bara.
Hingga 30 September 2026, progres konstruksi Awak Mas telah mencapai 72,84 persen menuju penyelesaian tahap C2. Sementara total biaya proyek yang telah dikeluarkan mencapai 397,5 juta dolar AS.
Azis mengatakan perusahaan tetap menjaga kinerja bisnis yang sudah berjalan untuk mendukung proses transformasi.
Dengan peningkatan laba, pertumbuhan pendapatan, serta besarnya alokasi investasi di luar batu bara, Indika Energy tengah mengarahkan strategi bisnisnya pada portofolio yang lebih beragam.
Perkembangan proyek Awak Mas menjadi salah satu bagian penting yang akan diperhatikan dalam perjalanan transformasi perusahaan ke depan.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Hans)






