Bank Ina Terbitkan 350 Juta Saham Baru, Investor Lama Terancam Terdilusi

JurnalLugas.Com – PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) menyiapkan aksi korporasi berupa penerbitan maksimal 350 juta saham baru melalui skema private placement atau penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) tahap II.

Menariknya, dua entitas yang dikaitkan dengan Anthoni Salim dan putranya, Axton Salim, disiapkan menjadi calon pembeli saham baru tersebut. Kedua perusahaan itu adalah PT Bakti Nusa Bangsa (BNB) dan PT Bakti Nusa Jayasentosa (BNJ), dan/atau afiliasinya.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, rencana penerbitan saham tersebut setara maksimal 5,69 persen dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh sebelum pelaksanaan aksi korporasi.

Apabila seluruh saham diterbitkan dan terserap, jumlah saham BINA akan bertambah dari sekitar 6,148 miliar menjadi maksimal 6,498 miliar saham.

Modal Baru untuk Memperkuat Penyaluran Kredit

Manajemen BINA menyatakan dana bersih yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk mendukung penyaluran kredit.

Baca Juga  IHSG BEI Menguat Tipis di Pagi Hari Indeks LQ45 Alami Sedikit Penurunan

Tambahan dana juga diarahkan untuk memperkuat struktur permodalan bank, termasuk mendukung pemenuhan ketentuan modal inti minimum.

Berdasarkan laporan posisi 30 September 2026, modal inti Bank Ina tercatat sekitar Rp2,64 triliun. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perseroan menyiapkan tambahan modal melalui penerbitan saham baru.

Dengan dukungan modal tambahan, perseroan berharap kapasitas pembiayaan dan struktur keuangan dapat semakin kuat.

Pemegang Saham Lama Berpotensi Terdilusi

Rencana private placement ini juga membawa konsekuensi bagi investor lama. Karena penerbitan saham dilakukan tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu, persentase kepemilikan pemegang saham yang sudah ada berpotensi berkurang.

BINA memperkirakan potensi dilusi kepemilikan maksimal sekitar 5,39 persen apabila seluruh saham baru diterbitkan.

Sementara itu, harga pelaksanaan saham baru belum ditetapkan dalam pengumuman tersebut. Penentuan harga akan mengacu pada ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk batas minimal berdasarkan rata-rata harga penutupan saham dalam 25 hari bursa sebelum permohonan pencatatan saham baru.

Besaran harga pelaksanaan nantinya menjadi salah satu informasi penting yang perlu dicermati investor karena akan memengaruhi nilai transaksi dan komposisi kepemilikan setelah penerbitan saham.

Baca Juga  Kumpulkan Dana IPO Rp8 triliun lebih Ini yang Digunakan PT Merdeka Battery Tbk (MBMA)

Anthoni Salim Masuk dalam Struktur Pengendalian

Keterlibatan dua entitas calon pembeli juga berkaitan dengan struktur pengendalian Bank Ina. Anthoni Salim tercatat sebagai pemegang saham pengendali terakhir perseroan melalui PT Indolife Pensiontama.

Dalam keterbukaan informasi, Anthoni Salim dan Axton Salim disebut sebagai pemilik manfaat akhir dari masing-masing calon investor. Keduanya merupakan ayah dan anak.

Dengan demikian, rencana private placement tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tambahan modal, tetapi juga memperlihatkan keterlibatan entitas yang berada dalam lingkup pengendalian Grup Salim.

Bagi investor, perkembangan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah realisasi penerbitan saham, harga pelaksanaan, jumlah saham yang benar-benar diserap, serta dampaknya terhadap struktur kepemilikan Bank Ina.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Hans)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait