Perbedaan Efek Kopi pada Orang yang Jarang dan Rutin Meminumnya

JurnalLugas.Com — Secangkir kopi bisa memberikan efek yang berbeda pada setiap orang. Ada yang langsung merasa lebih segar, fokus, dan sulit mengantuk setelah meminumnya. Namun, ada pula yang sudah terbiasa minum kopi setiap hari dan tidak lagi merasakan perubahan yang begitu kuat.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan tubuh menerima kafein. Orang yang jarang minum kopi umumnya memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap efek stimulan kafein. Sementara itu, mereka yang rutin mengonsumsinya dapat mengalami toleransi sehingga efek yang dirasakan tidak sekuat sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Lantas, mengapa kebiasaan minum kopi bisa memengaruhi respons tubuh?

1. Orang yang Jarang Minum Kopi Bisa Merasakan Efek Lebih Kuat

Bagi orang yang tidak terbiasa mengonsumsi kopi, kafein dapat memberikan perubahan yang cukup terasa. Setelah diminum, kafein diserap ke dalam aliran darah dan bekerja pada sistem saraf pusat.

Salah satu cara kerjanya adalah menghambat reseptor adenosin, yaitu zat kimia di otak yang berperan dalam meningkatkan rasa kantuk.

Ketika aktivitas adenosin terhambat, seseorang bisa merasa lebih terjaga, waspada, dan mampu mempertahankan perhatian.

Namun, pada orang yang sensitif terhadap kafein, efeknya tidak selalu menyenangkan. Konsumsi kopi juga dapat memicu jantung berdebar, gelisah, tangan gemetar, atau sulit tidur, terutama jika jumlahnya terlalu banyak.

2. Peminum Kopi Rutin Bisa Mengalami Toleransi

Orang yang terbiasa minum kopi setiap hari dapat mengalami toleransi terhadap kafein.

Artinya, tubuh mulai beradaptasi dengan paparan kafein yang berulang. Akibatnya, efek yang sebelumnya terasa kuat bisa menjadi lebih ringan meskipun jumlah kopi yang diminum sama.

Baca Juga  BI Buka Jalan UMKM Muda, Wastra dan Kopi Lokal Didorong Naik Kelas

Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian peminum kopi rutin merasa secangkir kopi tidak lagi cukup untuk membuat mereka lebih bersemangat.

Meski demikian, toleransi tidak berarti kafein sudah tidak berpengaruh sama sekali. Kafein tetap dapat memengaruhi sistem saraf, kualitas tidur, dan kondisi tubuh meskipun sensasi segarnya tidak lagi terlalu terasa.

3. Efek Kafein terhadap Kantuk Bisa Berbeda

Kafein tidak benar-benar menghilangkan kebutuhan tubuh untuk tidur. Zat ini hanya menghambat sementara sinyal kantuk yang berkaitan dengan adenosin.

Pada orang yang jarang minum kopi, penghambatan tersebut dapat terasa lebih jelas. Sebaliknya, orang yang rutin mengonsumsi kafein mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menyadari efeknya karena tubuh sudah beradaptasi.

Namun, rasa kantuk yang berkurang bukan berarti tubuh telah pulih dari kelelahan. Kurang tidur tetap dapat memengaruhi konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan mengambil keputusan.

4. Berhenti Minum Kopi Mendadak Bisa Menimbulkan Keluhan

Orang yang rutin mengonsumsi kopi dalam jumlah cukup banyak juga bisa mengalami gejala putus kafein ketika tiba-tiba berhenti.

Hal ini terjadi karena tubuh sudah terbiasa menerima kafein secara teratur. Ketika asupannya dihentikan, sebagian orang mengalami sakit kepala, mudah lelah, mengantuk, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan suasana hati.

Keluhan tersebut biasanya mulai muncul sekitar 12–24 jam setelah konsumsi terakhir. Gejalanya dapat berlangsung beberapa hari dan umumnya mereda secara bertahap.

Karena itu, bagi peminum kopi rutin yang ingin mengurangi konsumsi, menurunkan jumlahnya secara bertahap dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan.

5. Mengapa Ada Orang yang Lebih Sensitif terhadap Kopi?

Selain kebiasaan konsumsi, respons tubuh terhadap kafein juga dipengaruhi sejumlah faktor.

Beberapa di antaranya adalah faktor genetik, usia, kondisi kesehatan, penggunaan obat-obatan tertentu, serta kemampuan tubuh memetabolisme kafein.

Baca Juga  Mengapa Efek Kafein Bisa Bertahan Lebih Lama Sebagian Orang? Ini Penjelasannya

Waktu minum kopi juga berpengaruh. Kafein yang dikonsumsi menjelang waktu tidur dapat membuat seseorang lebih sulit terlelap, bahkan ketika ia merasa tidak terlalu terpengaruh oleh kopi.

Dengan demikian, dua orang yang meminum kopi dalam jumlah sama belum tentu mengalami efek yang serupa.

6. Berapa Batas Konsumsi Kafein yang Perlu Diperhatikan?

Bagi kebanyakan orang dewasa sehat, konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari umumnya dianggap masih dalam batas yang tidak menimbulkan efek berbahaya.

Namun, batas tersebut bukan berarti semua orang cocok mengonsumsi kafein sebanyak itu. Orang yang sensitif terhadap kafein mungkin mengalami keluhan meskipun jumlahnya jauh lebih rendah.

Ibu hamil juga dianjurkan membatasi konsumsi kafein hingga maksimal 200 miligram per hari. Sementara itu, orang dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai jumlah yang sesuai.

Perbedaan efek kopi pada orang yang jarang dan rutin meminumnya terutama berkaitan dengan toleransi tubuh terhadap kafein.

Orang yang jarang mengonsumsi kopi cenderung merasakan efek stimulan lebih kuat. Sementara itu, peminum kopi rutin dapat mengalami penurunan sensitivitas karena tubuh beradaptasi dengan paparan kafein berulang.

Meski demikian, terbiasa minum kopi bukan berarti tubuh kebal terhadap efek kafein. Mengatur jumlah konsumsi dan menjaga waktu tidur tetap penting agar kebiasaan minum kopi tidak mengganggu kesehatan.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Lili)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait