JurnalLugas.Com – Pada Rabu, 29 Mei 2024, harga kakao berjangka di Bursa Komoditi Berjangka New York mencatat kenaikan tajam, mencapai rekor tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh kurangnya curah hujan di Afrika Barat, yang mempengaruhi produksi kakao di wilayah tersebut.
Harga kakao berjangka untuk kontrak bulan Juli 2024 mengalami lonjakan sebesar 6,03%, ditutup pada angka $9.309 per ton. Situasi ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca di Afrika Barat yang mengalami penurunan curah hujan, menghambat produksi kakao di daerah tersebut. Hal ini menyebabkan kenaikan harga karena pasokan yang terbatas di pasar global.
Pantai Gading, yang merupakan produsen kakao terbesar di dunia, menghadapi penurunan produksi yang signifikan. Data pemerintah yang dirilis pada hari Senin menunjukkan bahwa pengiriman kakao oleh petani Pantai Gading ke pelabuhan mencapai 1,46 juta ton metrik (MMT) dari 1 Oktober hingga 26 Mei, turun 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ecom Agroindustrial, sebuah perusahaan perdagangan komoditas, memproyeksikan bahwa produksi kakao di Pantai Gading untuk tahun 2023/24 akan turun sebesar 21,5% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 1,75 MMT, angka terendah dalam delapan tahun terakhir.
Selain itu, penurunan persediaan kakao juga turut mendukung kenaikan harga. Persediaan kakao yang disimpan di pelabuhan-pelabuhan Amerika Serikat yang dipantau oleh ICE Newcastle turun ke level terendah dalam tiga tahun, yaitu 3.667.530 kantong pada hari Rabu.
Sejak mencapai titik terendah dalam hampir tiga bulan pada hari Senin lalu, harga kakao telah mengalami peningkatan signifikan. Laporan dari Hightower menyebutkan bahwa kekurangan pupuk dan pestisida yang dihadapi petani kakao di Afrika Barat diperkirakan akan terus mengganggu produksi kakao selama musim 2024/25, menambah tekanan pada pasokan dan harga.
Ke depan, pergerakan harga kakao akan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca di Afrika Barat. Jika curah hujan tetap rendah, produksi kakao akan terus terhambat dan harga berpotensi naik lebih tinggi.
Harga kakao diperkirakan bergerak dalam kisaran resistance $9.616-$9.923. Namun, jika terjadi penurunan, harga diprediksi akan berada dalam kisaran support $8.846-$8.383.
Dengan kondisi pasar yang dinamis dan faktor cuaca yang tidak menentu, harga kakao di bursa komoditi New York diperkirakan akan terus mengalami fluktuasi.
Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan cuaca dan produksi kakao di Afrika Barat untuk mengantisipasi pergerakan harga selanjutnya.






