AS Bangun Karantina Ebola Rahasia di Kenya, Warga Amerika Tak Lagi Dipulangkan

JurnalLugas.Com — Pemerintah Amerika Serikat mulai menyiapkan langkah baru dalam menghadapi ancaman penyebaran virus Ebola yang kembali meningkat di Afrika Tengah. Alih-alih langsung membawa warga negaranya pulang ke Amerika, pemerintah di bawah Presiden Donald Trump disebut memilih membangun pusat karantina sementara di Kenya untuk menangani warga AS yang terpapar virus mematikan tersebut.

Kebijakan itu muncul di tengah melonjaknya kasus suspek Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo), yang kini telah menembus lebih dari 1.000 kasus. Situasi tersebut memicu kekhawatiran internasional karena wabah terus meluas ke sejumlah wilayah timur negara itu.

Bacaan Lainnya

Menurut laporan media Amerika, militer AS mendapat instruksi untuk membangun fasilitas karantina khusus di wilayah Kenya bagian tengah dalam waktu singkat. Fasilitas tersebut nantinya dirancang sebagai rumah sakit lapangan dengan sistem biokontainmen berstandar tinggi untuk menangani pasien yang memiliki risiko penularan Ebola.

Tahap awal pembangunan disebut akan menyediakan sekitar 50 tempat tidur isolasi. Namun kapasitas itu dapat diperluas hingga mencapai 250 tempat tidur apabila situasi wabah memburuk.

Baca Juga  Uganda Tutup Perbatasan Kongo Usai Kasus Ebola Meledak, WHO Penyebaran Makin Sulit Dikendalikan

Seorang pejabat kesehatan yang dikutip media AS menyebut fasilitas itu disiapkan agar warga Amerika yang terpapar Ebola di kawasan Afrika dapat segera memperoleh penanganan medis tanpa harus diterbangkan langsung ke Amerika Serikat.

“Fasilitas ini disiapkan sebagai pusat perawatan darurat dan pengawasan ketat,” ujar sumber tersebut singkat.

Selain pembangunan fasilitas, personel dari Layanan Kesehatan Masyarakat AS juga mulai menjalani pelatihan khusus di Maryland sebelum diterjunkan ke Kenya. Mereka akan bertugas menangani pasien serta memastikan prosedur karantina berjalan sesuai standar kesehatan internasional.

Hingga kini belum ada kepastian lokasi pembangunan fasilitas tersebut maupun persetujuan resmi dari pemerintah Kenya. Namun langkah Washington dinilai menunjukkan perubahan strategi dalam penanganan wabah lintas negara.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah AS juga diketahui telah memindahkan sejumlah warga negaranya yang mengalami gejala Ebola ke fasilitas medis di Eropa, termasuk Jerman dan Republik Ceko, untuk pemantauan intensif.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) sebelumnya telah memberlakukan pembatasan masuk selama 30 hari bagi warga asing yang baru bepergian dari RD Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan. Aturan tersebut kemudian diperluas hingga mencakup pemegang kartu hijau atau penduduk tetap sah di AS.

Baca Juga  Wabah Kolera Afrika Kian Parah 300 Ribu Kasus, 7 Ribu Tewas & Infrastruktur Air Runtuh

Pakar epidemiologi internasional menilai langkah karantina regional seperti yang direncanakan AS dapat membantu mempercepat penanganan pasien sekaligus menekan risiko penularan lintas benua. Meski begitu, pengawasan ketat tetap diperlukan mengingat Ebola dikenal memiliki tingkat kematian tinggi serta penyebaran yang cepat melalui kontak cairan tubuh.

Di sisi lain, otoritas kesehatan RD Kongo masih berupaya mengendalikan wabah di tengah keterbatasan fasilitas medis dan tantangan keamanan di sejumlah wilayah konflik. Kondisi tersebut membuat penanganan Ebola menjadi semakin kompleks.

Meningkatnya kasus Ebola kembali mengingatkan dunia bahwa ancaman wabah global belum sepenuhnya berakhir. Kerja sama antarnegara, kesiapan fasilitas kesehatan, dan sistem deteksi dini menjadi faktor penting untuk mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut ke wilayah yang lebih luas.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait