JurnalLugas.Com — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi ditemukannya satu kasus penyakit akibat virus Marburg di Distrik Kyegegwa, Uganda bagian barat.
Temuan ini mendorong otoritas kesehatan setempat meningkatkan pengawasan serta mempercepat upaya penelusuran kontak untuk mencegah potensi penyebaran penyakit.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa kasus tersebut berhasil teridentifikasi melalui sistem pengawasan penyakit yang sebelumnya diperkuat untuk mendeteksi Ebola.
Laporan resmi mengenai kasus itu diterima WHO dari pemerintah Uganda pada 30 Juni 2026.
Meski muncul kasus Marburg, situasi wabah Ebola di Uganda dinilai terkendali. Hingga 21 Juni 2026, tidak ditemukan laporan tambahan mengenai infeksi Ebola di negara tersebut.
Menurut keterangan WHO, seluruh individu yang diketahui memiliki riwayat kontak dengan pasien kini berada dalam pemantauan intensif oleh otoritas kesehatan.
Sampai saat ini belum ada kontak yang menunjukkan tanda-tanda penyakit, namun proses observasi tetap berlangsung sesuai prosedur kesehatan masyarakat.
Dalam pernyataannya, Tedros menjelaskan bahwa WHO terus mendukung pemerintah Uganda dalam menelusuri asal paparan virus, melakukan penilaian risiko, serta memperkuat keterlibatan masyarakat agar langkah pencegahan dapat berjalan efektif.
Virus Marburg merupakan salah satu patogen yang termasuk dalam keluarga filovirus, kelompok virus yang juga mencakup Ebola.
Penyakit ini dikenal dapat menyebabkan demam berdarah berat dengan tingkat kematian yang relatif tinggi apabila tidak segera ditangani.
WHO menjelaskan bahwa rata-rata tingkat fatalitas penyakit akibat virus Marburg berada di kisaran 50 persen.
Namun, berdasarkan berbagai kejadian wabah sebelumnya, angka kematian dapat bervariasi antara 24 hingga 88 persen, bergantung pada kecepatan deteksi, kualitas pelayanan kesehatan, dan respons penanganan di lapangan.
Gejala penyakit umumnya diawali dengan demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, hingga kondisi yang dapat berkembang menjadi perdarahan pada kasus berat.
Karena itu, deteksi dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Para ahli kesehatan menilai bahwa perawatan suportif, termasuk pemberian cairan untuk mencegah dehidrasi serta penanganan sesuai gejala yang dialami pasien, menjadi langkah utama dalam meningkatkan angka keselamatan penderita.
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus yang telah mendapat persetujuan untuk mengobati penyakit akibat virus Marburg.
Meski demikian, sejumlah kandidat vaksin dan terapi masih terus dikembangkan melalui berbagai penelitian internasional.
WHO menegaskan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah Uganda guna memastikan investigasi berjalan menyeluruh, memperkuat sistem pengawasan, serta memberikan pembaruan informasi kepada masyarakat internasional apabila terdapat perkembangan baru terkait kasus tersebut.
Baca berita kesehatan dan informasi terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






