JurnalLugas.Com – Pada 13 Juli lalu, Israel mengonfirmasi kematian Mohammed Deif, orang nomor dua Hamas, dalam sebuah serangan di Gaza. Militer Israel sebelumnya menyatakan bahwa hampir dapat dipastikan bahwa Deif tewas dalam serangan di kota Khan Younis. Namun, Hamas membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa operasi Israel terhadap Deif telah menewaskan sekitar 100 orang lainnya.
Mohammed Deif menjadi target utama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, setelah serangan Hamas pada 7 Oktober ke Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang.
Deif dianggap sebagai salah satu perencana utama serangan tersebut dan bahkan merekam pidato yang mengumumkan serangan tersebut.
Pernyataan Israel mengenai kematian Deif ini datang setelah pembunuhan Ismail Haniyeh, pemimpin politik Hamas, di ibu kota Iran pada Rabu, 31 Juli 2024.
Iran dan Hamas menyatakan bahwa Israel menargetkan Haniyeh dalam serangan tersebut, meskipun pemerintah Israel belum mengonfirmasi atau membantah hal ini. Sementara itu, Yahya Sinwar, pemimpin umum Hamas, masih buron di Gaza.
Menurut kementerian kesehatan yang dikelola oleh Hamas, hampir 40.000 orang Palestina telah tewas sejak Israel memulai serangan pembalasan ke Gaza. Perlu diketahui bahwa Hamas telah ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Ketegangan antara Israel dan Hamas terus meningkat, dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan dan operasi militer. Kematian Mohammed Deif dapat memicu respons lebih lanjut dari Hamas, yang berpotensi memperburuk situasi yang sudah tegang di wilayah tersebut.






