JurnalLugas.Com – Cacar monyet (Monkeypox atau Mpox) telah menewaskan lebih dari 1.100 jiwa di Afrika sepanjang tahun 2024. Penyebaran penyakit ini diperparah oleh keterbatasan vaksin, kondisi padat di kamp-kamp pengungsian, serta situasi buruk di penjara. Mpox, selain menular dengan cepat, dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kebutaan dan kecacatan permanen.
Situasi Wabah dan Keterbatasan Vaksinasi
Menurut Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika), Jean Kaseya, Afrika saat ini berada di titik kritis. “Kami belum mencapai kemajuan signifikan,” ujarnya dalam konferensi pers pada 17 Oktober 2024. Kaseya menekankan bahwa Afrika sangat membutuhkan vaksin dan intervensi nyata untuk menghentikan penyebaran virus ini.
Sepanjang tahun ini, 42.000 kasus Mpox telah dilaporkan, dengan 3.051 kasus baru muncul hanya dalam sepekan terakhir. Republik Demokratik Kongo menjadi negara paling terdampak, dan wabah kini telah menyebar ke 18 negara di Afrika, naik drastis dari hanya enam negara pada April 2024.
Kamp Pengungsian dan Penjara: Pusat Penyebaran Mpox
Situasi di kamp-kamp pengungsian di Kongo timur sangat memprihatinkan. Kamp yang menampung 2,5 juta pengungsi ini mengalami krisis sanitasi, kekurangan makanan, dan rentan terhadap penyakit seperti malaria, campak, dan kolera, yang memperparah kondisi kesehatan penghuninya.
Selain itu, wabah Mpox juga melanda penjara di Uganda, dengan tiga kasus terkonfirmasi yang membuat 1.874 narapidana harus dipantau ketat karena kontak langsung dengan penderita. Direktur CDC Afrika menyoroti bahwa kurangnya kebiasaan mencuci tangan dan isolasi kasus memperburuk situasi, sehingga vaksinasi massal dan tes diagnostik menjadi semakin mendesak.
Tantangan dalam Diagnostik dan Vaksinasi
Sejauh ini, kurang dari setengah kasus Mpox yang dicurigai telah diuji, meskipun jumlah kasus terkonfirmasi meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan tahun 2023. CDC Afrika bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempercepat pemrosesan tes dengan meningkatkan transportasi ke laboratorium dan melibatkan tenaga terlatih di tingkat lokal.
Dalam upaya memperluas akses tes cepat, WHO baru-baru ini menyetujui alat diagnostik kedua untuk penggunaan darurat. Meskipun begitu, vaksinasi masih menjadi tantangan. Hingga kini, 21.000 orang telah divaksinasi, dengan prioritas diberikan kepada tenaga kesehatan, kontak erat pasien, dan pekerja seks. Namun, vaksin untuk anak-anak belum tersedia karena pasokan dari Jepang tertunda.
Pendanaan Mendesak untuk Pengendalian Wabah
Kaseya juga menekankan perlunya pencairan cepat dari dana bantuan internasional, termasuk yang dijanjikan oleh Amerika Serikat dan mitra pandemi lainnya. “Agar penyebaran Mpox dapat dihentikan secara efektif, pendanaan harus segera direalisasikan,” kata Kaseya.
Wabah Mpox di Afrika menunjukkan bahwa pandemi global masih menjadi ancaman serius, terutama di kawasan dengan infrastruktur kesehatan terbatas.
Kerja sama internasional yang lebih solid dibutuhkan untuk mengatasi masalah vaksinasi dan memastikan akses ke tes diagnostik tepat waktu.
Dengan langkah cepat dan dukungan memadai, penyebaran penyakit ini dapat ditekan sebelum mengakibatkan lebih banyak korban jiwa.






