JurnalLugas.Com – Pemimpin Hizbullah Sheikh Naim Qassem pada Rabu 27 November 2024 merilis pernyataan pertama setelah perjanjian gencatan senjata antara Lebanon dan Israel mulai berlaku. Kelompok tersebut menegaskan kesiapan mereka untuk menghadapi agresi jika konflik kembali meletus.
Dalam pernyataannya, Hizbullah menegaskan, “Pasukan kami akan tetap siaga untuk mengatasi ambisi dan agresi musuh kami, Israel.” ujar Sheikh Naim Qassem.
Fokus pada Penarikan Pasukan Israel
Hizbullah berjanji untuk memantau ketat proses penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon selatan. Mereka menekankan bahwa para pejuang akan terus mengawasi pergerakan militer Israel di sepanjang Garis Biru.
“Mata para pejuang kami akan tetap fokus pada pergerakan dan penarikan mundur musuh di luar perbatasan, dan tangan mereka akan tetap di pelatuk untuk mempertahankan kedaulatan Lebanon,” ujar Hizbullah dalam pernyataannya.
Isi Perjanjian Gencatan Senjata
Gencatan senjata Lebanon-Israel mulai berlaku pada Rabu dengan tujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 14 bulan. Berdasarkan perjanjian tersebut, Israel akan menarik pasukannya secara bertahap dari selatan Garis Biru. Sementara itu, Lebanon diwajibkan menempatkan tentaranya di wilayah tersebut dalam waktu maksimal 60 hari.
Peran Amerika Serikat
Gencatan senjata ini tercapai hanya beberapa jam setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan bahwa proposal perdamaian telah disetujui kedua belah pihak. Kesepakatan ini diharapkan mampu menghentikan serangan udara Israel di Lebanon serta mengakhiri pertempuran lintas perbatasan yang berkepanjangan.
Kesepakatan tersebut menjadi titik harapan baru bagi stabilitas di wilayah tersebut, meskipun tantangan untuk menjaga perdamaian tetap besar.






