Drone Roket Hizbullah Hancurkan Target Militer Zionis Israel

JurnalLugas.Com — Ketegangan di kawasan perbatasan Lebanon selatan kembali meningkat setelah kelompok bersenjata Hizbullah mengklaim telah melancarkan puluhan serangan terhadap target militer Zionis Israel dalam kurun 24 jam terakhir. Eskalasi terbaru ini memperlihatkan situasi keamanan di kawasan masih jauh dari stabil meski kesepahaman gencatan senjata telah diperpanjang hingga pertengahan Mei.

Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menyebut sedikitnya 24 operasi militer dilakukan dengan menyasar berbagai posisi strategis milik tentara Israel di wilayah perbatasan. Sasaran yang diklaim terkena serangan mencakup kendaraan tempur, tank Merkava, buldoser militer D9, pusat komando baru, hingga konsentrasi pasukan Israel di sejumlah titik sensitif.

Bacaan Lainnya

Beberapa lokasi yang disebut menjadi target antara lain kawasan Khiam, Deir Seryan, Tayr Harfa, Bayyada, Rashaf, hingga Naqoura yang selama beberapa bulan terakhir menjadi titik panas bentrokan lintas perbatasan.

Hizbullah mengungkapkan serangan dilakukan menggunakan kombinasi drone peledak, rudal berpemandu, rentetan roket, serta artileri jarak menengah. Kelompok tersebut juga mengeklaim sejumlah operasi berhasil mengenai sasaran secara langsung.

Baca Juga  Serangan Udara Zionis Israel Hantam Teheran, Esmail Ahmadi, Kepala Intelijen Basij Iran Diklaim Tewas

Dalam keterangannya, Hizbullah menilai aksi militer itu merupakan respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel, termasuk serangan terhadap wilayah sipil dan desa-desa di Lebanon selatan.

Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi adanya aktivitas udara mencurigakan dari arah Lebanon pada Minggu malam waktu setempat. Sirene serangan udara sempat berbunyi di sejumlah wilayah Galilea Atas untuk kedua kalinya dalam beberapa jam terakhir setelah terdeteksi dugaan infiltrasi drone.

Pihak militer Israel mengatakan angkatan udaranya berhasil mencegat target yang dianggap mengancam sebelum memasuki area strategis. Israel juga menyebut peluncuran drone tersebut sebagai bentuk pelanggaran lain terhadap kesepahaman penghentian konflik yang sebelumnya telah disepakati.

Meski perjanjian gencatan senjata mulai berlaku sejak 17 April lalu dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, bentrokan bersenjata di sepanjang perbatasan nyatanya belum benar-benar berhenti. Serangan udara, baku tembak artileri, hingga operasi lintas batas masih terus berlangsung hampir setiap hari.

Baca Juga  Peringati Satu Tahun Kekejian Zionis Israel di Jalur Gaza Masyarakat Suarakan AS Akhiri

Konflik yang meluas sejak awal Maret itu telah memicu dampak kemanusiaan besar di Lebanon. Ribuan warga dilaporkan menjadi korban jiwa dan luka-luka, sementara lebih dari satu juta penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat meningkatnya ancaman perang.

Israel sendiri masih mempertahankan kawasan yang mereka sebut sebagai “zona penyangga” di sejumlah titik perbatasan Lebanon, langkah yang terus menuai penolakan dari Hizbullah dan pemerintah Lebanon.

Di tengah situasi yang semakin tegang, Amerika Serikat dijadwalkan menjadi mediator dalam pembicaraan damai antara kedua pihak pada 14 hingga 15 Mei mendatang di Washington DC. Pertemuan tersebut diharapkan mampu meredam konflik yang berpotensi meluas menjadi perang kawasan yang lebih besar.

Baca berita internasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait