JurnalLugas.Com – Emiten sektor sawit, PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS), kembali tercatat dalam daftar Efek Tidak Dijamin (ETD) untuk periode Desember 2024. Sebelumnya, NSSS telah masuk dalam daftar serupa pada November 2023. Hal ini didasarkan pada Pasal 25 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 26 Tahun 2014 tentang Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa, serta hasil evaluasi bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).
Dampak terhadap Investor dan Reputasi Perusahaan
Manajemen NSSS menyatakan bahwa keputusan tersebut berada di luar kendali perusahaan dan tidak mencerminkan kinerja keuangan yang sebenarnya masih solid.
“Penetapan saham NSSS sebagai efek tidak dijamin sangat memengaruhi kepercayaan investor, terutama investor ritel, dan berpotensi merugikan secara signifikan,” tulis manajemen dalam pernyataan resmi pada Jumat, 13 Desember 2024.
Kinerja Positif Kuartal III-2024
Terlepas dari status ETD, NSSS menunjukkan performa keuangan yang mengesankan pada kuartal III-2024. Perseroan mencatat pertumbuhan tiga digit baik secara kuartalan maupun tahunan. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga jual minyak sawit mentah (CPO) yang mencapai Rp12.609 per kilogram, naik 3 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter / QoQ) dan 19,3 persen secara tahunan (year-on-year / YoY).
Dari sisi volume, produksi CPO mencapai 28.394 ton, didukung oleh beroperasinya pabrik kedua perusahaan pada Desember 2023. Penjualan CPO hingga September 2024 meningkat 27,4 persen YoY menjadi 27.007 ton. Penambahan fasilitas ini diproyeksikan meningkatkan utilitas kapasitas produksi dari 60 persen menjadi 80 persen pada 2025.
Proyeksi dan Rencana Strategis NSSS
Manajemen optimistis terhadap prospek bisnis di kuartal IV-2024. Ketatnya pasokan di pasar domestik, seiring implementasi biodiesel B40 pada Januari 2025 dan rencana B50 di 2026, diperkirakan akan mendorong peningkatan kinerja perusahaan.
“Langkah strategis ini diyakini akan semakin memperkuat laba bersih dan stabilitas bisnis NSSS ke depannya,” tambah manajemen.
Restrukturisasi Kepemilikan Saham
Pada 4 Desember 2024, PT Samuel Tumbuh Bersama (STB) melepas 6,23 persen saham NSSS, atau sekitar 1,48 miliar saham. Menurut manajemen, transaksi ini merupakan bagian dari restrukturisasi kepemilikan yang berkaitan dengan rencana IPO induk usaha Samuel Group.
Sebagai informasi, PT Mitra Agro Dharma Unggul (MADU) dan NSSS merupakan entitas di bawah Samuel Group. Dalam restrukturisasi ini, sebagian kepemilikan saham NSSS oleh MADU dialihkan ke STB.
“Perpindahan kepemilikan ini tidak mengubah pengendali utama NSSS. Langkah ini adalah bagian dari strategi Samuel Group untuk memposisikan STB sebagai unit investasi utama grup,” jelas manajemen NSSS.
Meskipun penetapan ETD pada Desember 2024 membawa tantangan bagi NSSS, kinerja positif perusahaan menunjukkan potensi pertumbuhan yang menjanjikan. Langkah strategis, seperti penambahan kapasitas produksi dan restrukturisasi kepemilikan, diharapkan dapat memperkuat posisi NSSS di pasar. Kepercayaan investor tetap menjadi tantangan utama yang harus dihadapi perusahaan dalam waktu dekat.






