JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dijadwalkan bergabung dalam konferensi virtual bersama para pemimpin dunia guna membahas kemungkinan pengiriman pasukan perdamaian Australia ke Ukraina. Pertemuan ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 15 Maret 2025 malam dan dipimpin oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.
Konferensi ini akan dihadiri oleh sejumlah pemimpin negara besar, termasuk dari Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Selandia Baru, serta Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Dalam pertemuan ini, Albanese diperkirakan akan menyampaikan bahwa Canberra tetap terbuka untuk mempertimbangkan permintaan resmi dari Ukraina terkait pengiriman pasukan perdamaian.
Sikap Australia terhadap Misi Perdamaian di Ukraina
Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, sebelumnya telah menyatakan bahwa negaranya siap mempertimbangkan segala bentuk permintaan bantuan dari Kiev. Namun, ia menekankan bahwa pengiriman pasukan hanya akan dilakukan setelah ada perdamaian yang harus dijaga.
Hal ini menunjukkan bahwa Australia mengambil pendekatan hati-hati dalam keterlibatannya di konflik Ukraina. Canberra ingin memastikan bahwa pengiriman pasukan perdamaian benar-benar bertujuan untuk menjaga stabilitas, bukan justru memperburuk situasi di kawasan tersebut.
Dukungan Internasional terhadap Misi Perdamaian
Rencana pengiriman pasukan perdamaian ke Ukraina bukan hanya menjadi perhatian Australia. Pada 16 Januari 2025, laporan dari The Telegraph mengungkapkan bahwa PM Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron diam-diam membahas kemungkinan pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina setelah konflik berakhir.
Macron disebut-sebut sebagai salah satu pemimpin yang aktif mendorong inisiatif ini. Bahkan, ia telah mendiskusikan ide tersebut dengan Presiden Zelenskyy dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk.
Namun, Starmer dikabarkan masih mempertimbangkan keputusan ini, tanpa memberikan komitmen resmi. Sikap hati-hati dari Inggris ini menunjukkan bahwa keputusan untuk mengirimkan pasukan perdamaian memerlukan pertimbangan mendalam, baik dari segi diplomasi maupun dampaknya terhadap geopolitik global.
Tanggapan Rusia: Peringatan dari Moskow
Di sisi lain, Rusia menanggapi rencana ini dengan keras. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, pada Maret 2025 menegaskan bahwa kehadiran pasukan dari negara-negara anggota NATO di Ukraina, dalam kapasitas apa pun, termasuk sebagai pasukan perdamaian, akan dianggap sebagai ancaman langsung bagi Rusia.
Moskow menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima kehadiran pasukan asing di Ukraina dalam kondisi apa pun. Pernyataan ini menunjukkan bahwa setiap langkah pengiriman pasukan perdamaian harus diperhitungkan dengan matang untuk menghindari eskalasi ketegangan antara NATO dan Rusia.
Diskusi mengenai pengiriman pasukan perdamaian ke Ukraina menunjukkan bahwa konflik di kawasan tersebut masih menjadi perhatian utama dunia. Australia, bersama negara-negara sekutu lainnya, masih mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan.
Keputusan untuk mengirimkan pasukan perdamaian bukan hanya masalah teknis, tetapi juga berkaitan dengan diplomasi global, keseimbangan kekuatan, dan risiko eskalasi konflik. Langkah yang diambil oleh Australia dan negara-negara Barat dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu bagaimana dunia menghadapi tantangan perdamaian di Ukraina.
Baca berita lengkap lainnya di JurnalLugas.Com.






