JurnalLugas.Com – Australia kembali menghadapi ancaman penyebaran flu burung H5N1 setelah kasus terbaru terdeteksi di negara bagian Australia Selatan.
Temuan ini menjadi sinyal bahwa penyebaran virus unggas berbahaya tersebut mulai menjangkau lebih banyak wilayah di daratan utama Australia.
Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa seekor burung petrel raksasa migran yang ditemukan dalam kondisi lemah di kawasan pantai sekitar 70 kilometer di selatan Adelaide dinyatakan positif terinfeksi virus flu burung H5N1 dengan tingkat patogenitas tinggi.
Kasus tersebut menjadi yang pertama di Australia Selatan sekaligus menambah daftar temuan virus H5N1 di daratan utama Australia dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, dua kasus serupa telah ditemukan pada burung migran di wilayah Australia Barat.
Meningkatnya jumlah kasus membuat pemerintah negara bagian dan federal memperketat pengawasan terhadap satwa liar migran yang berpotensi membawa virus dari luar negeri.
Jalur migrasi burung kini menjadi fokus utama pemantauan guna mencegah penyebaran lebih luas ke sektor peternakan maupun ekosistem lokal.
Kepala Pemerintahan Australia Selatan, Peter Malinauskas, menegaskan bahwa pemerintah telah mempersiapkan berbagai skenario menghadapi kemungkinan masuknya virus tersebut sejak beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, berbagai protokol darurat dan sistem respons cepat telah disusun untuk mengantisipasi risiko penyebaran flu burung.
Ia menyebut pemerintah kini mulai menjalankan langkah-langkah yang sebelumnya telah dipersiapkan sebagai bagian dari strategi mitigasi.
“Kami sudah menyiapkan berbagai rencana menghadapi kemungkinan masuknya H5N1 dan saat ini proses implementasinya sedang berjalan,” ujar Malinauskas.
Di tingkat nasional, Australia sebenarnya telah menggelontorkan investasi besar untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman wabah flu burung.
Sebelum kasus pertama terdeteksi, pemerintah federal mengalokasikan dana lebih dari 113 juta dolar Australia guna mendukung program pencegahan, pemantauan, dan respons cepat terhadap potensi penyebaran virus.
Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, Julie Collins, mengakui bahwa kemunculan kasus terbaru ini menimbulkan kekhawatiran.
Namun, ia menilai kedatangan burung migran yang membawa virus sebenarnya telah menjadi risiko yang diprediksi sebelumnya.
Collins menjelaskan bahwa Australia selama ini terus memantau jalur migrasi burung liar karena kelompok satwa tersebut berpotensi menjadi media penyebaran virus lintas negara.
Sementara itu, otoritas di Australia Barat juga tengah menyelidiki dugaan kasus tambahan yang ditemukan pada burung liar di wilayah barat daya negara bagian tersebut.
Sampel yang diperoleh masih menjalani pengujian laboratorium untuk memastikan apakah terkait dengan galur H5N1 yang sama.
Para ahli kesehatan hewan mengingatkan bahwa meskipun risiko penularan kepada manusia masih tergolong rendah, penyebaran virus pada populasi unggas liar dapat berdampak besar terhadap industri peternakan dan rantai pasok pangan apabila tidak ditangani secara cepat.
Dengan bertambahnya temuan kasus di berbagai wilayah, Australia kini memperkuat koordinasi antarnegara bagian untuk memastikan deteksi dini dan respons cepat terhadap setiap indikasi penyebaran flu burung yang berpotensi mengancam sektor pertanian nasional.
Baca berita nasional dan internasional lainnya di JurnalLugas.Com: https://jurnallugas.com
(Handoko)






