JurnalLugas.Com – Bayang-bayang masa lalu menyelimuti Prefektur Kanagawa, Jepang, saat kabar mengejutkan datang dari raksasa otomotif Negeri Sakura, Nissan Motor Co., Ltd. Dua pabrik legendaris, Oppama dan Shonan, yang selama puluhan tahun menjadi jantung produksi kendaraan Nissan, dikabarkan akan segera menutup tirainya.
Tak hanya di Jepang, dua fasilitas produksi lainnya di Meksiko juga tengah dipertimbangkan untuk bernasib serupa, seiring dengan upaya restrukturisasi besar-besaran yang tengah dilakukan perusahaan.
Warisan Panjang yang Akan Berakhir
Pabrik Oppama, yang telah beroperasi sejak 1961, merupakan saksi bisu perjalanan panjang Nissan. Di sinilah mobil listrik ikonik, Nissan Leaf, dilahirkan—sebuah inovasi yang mencetak sejarah sebagai salah satu kendaraan listrik massal pertama di dunia. Dengan kapasitas produksi mencapai 240.000 unit per tahun dan mempekerjakan hampir 4.000 orang per Oktober 2023, pabrik ini bukan sekadar lokasi produksi—ia adalah simbol kemajuan dan transformasi Nissan.
Tak jauh dari sana, pabrik Shonan yang dikelola oleh Nissan Shatai—anak usaha dengan 50 persen saham dimiliki Nissan—juga menghadapi potensi penutupan. Pabrik yang menghasilkan van komersial ini memiliki kapasitas sekitar 150.000 unit per tahun dan menghidupi lebih dari 1.200 karyawan.
Gema Restrukturisasi Global
Isu penutupan tidak hanya bergema di Jepang. Nissan juga disebut tengah mengevaluasi operasi di negara-negara lain seperti Afrika Selatan, India, dan Argentina. Bahkan, dua fasilitas di Meksiko juga dilaporkan berada dalam radar restrukturisasi. Hal ini muncul tak lama setelah Nissan mengumumkan langkah penghematan besar-besaran, termasuk pengurangan 15 persen tenaga kerja global serta penyusutan jumlah pabrik dari 17 menjadi 10 hingga tahun fiskal 2027.
Sebagai bagian dari efisiensi ini, Nissan telah lebih dulu menyatukan produksi pickup truck Frontier dan Navara dari dua negara—Meksiko dan Argentina—ke satu pusat produksi terpadu di pabrik Civac, Meksiko.
Langkah Strategis atau Kenyataan Pahit?
Pada Maret lalu, mitra strategis Nissan, Renault, juga mengumumkan pembelian seluruh saham Nissan dalam perusahaan patungan mereka di India, RNAIPL, yang menjadi sinyal lain dari pergeseran besar dalam peta industri otomotif global.
Meski demikian, pihak Nissan masih bersikap hati-hati. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menegaskan bahwa laporan terkait penutupan pabrik-pabrik tersebut belum berasal dari sumber resmi. “Saat ini, kami tidak akan memberikan komentar lebih lanjut terkait hal ini. Kami berkomitmen menjaga transparansi dengan para pemangku kepentingan dan akan menyampaikan pembaruan yang relevan apabila diperlukan,” demikian disampaikan oleh Nissan.
Menatap Masa Depan dengan Harap-Harap Cemas
Jika rencana ini benar-benar terealisasi, maka akan menjadi penutupan pabrik domestik pertama sejak Nissan menghentikan operasional Pabrik Murayama pada tahun 2001. Bagi para pekerja, keluarga mereka, dan komunitas lokal yang bergantung pada keberadaan pabrik-pabrik tersebut, ini bukan sekadar keputusan bisnis—melainkan pergolakan emosional yang mendalam.
Sementara dunia terus bergerak ke arah elektrifikasi dan efisiensi, restrukturisasi ini menjadi gambaran nyata dari tantangan berat yang harus dihadapi oleh industri otomotif global: mempertahankan daya saing, meminimalisir biaya, dan tetap relevan dalam era transisi teknologi.
Kabar ini bukan hanya tentang Nissan. Ini adalah cermin dari dunia yang berubah—dan mereka yang terpaksa ikut berubah bersamanya.
Untuk berita otomotif lainnya yang tajam dan terpercaya, kunjungi JurnalLugas.Com.






