JurnalLugas.Com – Konflik bersenjata antara Iran dan Israel kembali memanas setelah militer Israel mengumumkan keberhasilannya dalam melumpuhkan Saeed Izadi, seorang komandan senior dari Korps Quds Garda Revolusi Iran (IRGC), dalam serangan presisi yang dilancarkan di kota suci Qom, Iran.
Saeed Izadi dikenal sebagai tokoh strategis yang berpengaruh dalam operasi luar negeri Iran, dan disebut-sebut sebagai sosok utama di balik dukungan logistik dan pelatihan militer untuk kelompok Hamas di Gaza. Kematian Izadi disebut sebagai pukulan besar terhadap jaringan aliansi Iran di kawasan Timur Tengah.
“Izadi bukan hanya tokoh militer, ia adalah otak di balik jalur senjata dan pelatihan ke kelompok-kelompok militan anti-Israel. Ini adalah capaian penting,” kata seorang pejabat pertahanan Israel yang tak ingin disebutkan namanya kepada Reuters, Sabtu (21/6).
Serangan Akurat, Isfahan Juga Jadi Sasaran
Selain di Qom, Israel juga dilaporkan menggempur berbagai lokasi strategis di Isfahan, termasuk gudang rudal dan fasilitas produksi sentrifugal. Meski otoritas Iran membantah adanya kerusakan pada fasilitas nuklir, beberapa sumber independen melaporkan ledakan terdengar hingga radius 10 kilometer dari lokasi serangan.
Teheran Balas, Tapi Guncangannya Tak Seimbang
Sebagai respons atas serangan ini, Iran kembali menembakkan rudal balistik ke wilayah Israel, menyasar Tel Aviv dan Haifa. Namun, mayoritas proyektil berhasil dihalau sistem pertahanan Iron Dome. Meski begitu, satu rudal berhasil mengenai bangunan perumahan di Yerusalem Barat, menewaskan dua warga sipil dan melukai lima lainnya.
Di pihak Iran, laporan sementara menyebutkan sedikitnya 639 orang tewas dalam rangkaian serangan balasan Israel di berbagai provinsi termasuk Qom dan Isfahan, menurut The Daily Star dan The Times UK.
Konteks Politik: Kematian Izadi dan Kebuntuan Diplomasi
Pengamat menilai kematian Saeed Izadi dapat memperburuk ketegangan diplomatik, mengingat Iran baru saja menyatakan tidak akan kembali ke meja perundingan terkait program nuklir mereka selama Israel terus melakukan serangan militer. Hal ini memperkuat kekhawatiran internasional akan potensi konflik berkepanjangan dan dampaknya terhadap stabilitas regional.
“Dengan kehilangan figur sekelas Izadi, Iran akan berusaha membalas di waktu dan tempat yang mereka pilih. Ini belum berakhir,” ujar Dr. Farhad Rahimi, analis politik Timur Tengah di Universitas Teheran.
Israel Targetkan Akar Militer Iran
Pemerintah Israel menyatakan bahwa serangan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menghambat pengembangan senjata nuklir dan jaringan milisi proksi Iran.
“Target kami adalah infrastruktur yang menopang terorisme lintas batas,” ujar Juru Bicara Militer Israel dalam konferensi pers, Sabtu pagi.
Konflik antara Israel dan Iran kini tidak hanya menjadi perang terbuka, tetapi juga menjadi pertarungan intelijen dan simbolisme militer. Dengan terbunuhnya Saeed Izadi, babak baru konfrontasi terbuka tampaknya telah dimulai.
Baca berita terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com






