JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar energi global.
Bentrokan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran membuat para pelaku pasar mulai menghitung ulang potensi risiko terhadap jalur distribusi minyak internasional.
Kenaikan harga terjadi meski Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran masih berjalan. Pernyataan tersebut sempat meredakan kepanikan pasar, namun belum cukup menghapus kekhawatiran investor terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak mentah dunia.
Minyak mentah Brent untuk kontrak Juli 2026 tercatat naik 1,1 persen menjadi USD101,13 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juni 2026 menguat 0,6 persen ke level USD95,40 per barel.
Pelaku pasar memandang Selat Hormuz sebagai titik paling sensitif dalam rantai distribusi energi global. Jalur laut sempit itu menjadi lintasan utama pengiriman minyak dari negara-negara produsen Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Sedikit saja eskalasi konflik di kawasan tersebut dapat langsung memicu lonjakan harga energi dunia.
Analis energi internasional menilai kenaikan harga kali ini lebih dipengaruhi sentimen geopolitik dibanding faktor fundamental permintaan. Ketidakpastian keamanan kawasan membuat investor memilih langkah aman dengan meningkatkan pembelian kontrak minyak mentah.
“Pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah. Risiko kecil saja bisa mendorong spekulasi besar,” ujar seorang analis perdagangan energi global dalam laporan pasar terbaru.
Meski begitu, sebagian investor masih berharap situasi tidak berkembang menjadi konflik terbuka. Pernyataan Donald Trump mengenai keberlanjutan gencatan senjata dinilai menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka antara AS dan Iran.
Kondisi tersebut membuat pasar minyak bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini. Investor global kini menunggu perkembangan terbaru dari hubungan Washington-Teheran sekaligus memantau keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Jika ketegangan terus meningkat, harga minyak diperkirakan berpotensi kembali menembus level psikologis baru. Sebaliknya, apabila situasi mereda, pasar energi global diprediksi kembali stabil dalam beberapa pekan mendatang.
Baca berita ekonomi dan energi global lainnya di JurnalLugas.Com
(Putrawan)






