JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia mencatat pelemahan pada sesi perdagangan Rabu (17/9) akibat kekhawatiran terhadap penurunan permintaan di Amerika Serikat (AS), yang muncul bersamaan dengan laporan stok solar yang meningkat dan tindakan moneter bank sentral AS.
Penyebab Penurunan Harga
- Stok Solar AS Meningkat
Data dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa meskipun persediaan minyak mentah mengalami penurunan yang cukup tajam disebabkan oleh lonjakan ekspor dan penurunan impor kenaikan persediaan solar dan produk distilat lain memicu kekhawatiran bahwa permintaan terhadap bahan bakar tersebut melemah. - Kebijakan Moneter The Fed
Federal Reserve AS memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin, sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, sinyal bahwa biaya pinjaman akan mulai diturunkan secara bertahap sepanjang 2025 menambah ketidakpastian di pasar komoditas energi. - Faktor Pasokan dan Risiko Geopolitik
- Kazakhstan kembali mengalirkan minyak lewat pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan setelah sempat dihentikan karena kontaminasi.
- Di Nigeria, status darurat di Rivers (asosiasi daerah penghasil minyak) yang telah berlangsung enam bulan juga dicabut.
- Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia oleh Ukraina terus menambah risiko terhadap pasokan minyak mentah dari Rusia.
Dampak Perubahan Harga
- Kontrak Brent turun sekitar 0,76%, yang membuat harganya berada di kisaran USD 68,22 per barel.
- WTI (West Texas Intermediate) AS melemah sekitar 0,73%, menjadi sekitar USD 64,05 per barel.
Kutipan Analis
“Pasar tampaknya bereaksi pada solar, yang menjadi titik lemah seluruh kompleks,” ujar Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.
“Ini bukan kejutan,” tambahnya, merujuk pada keputusan pemotongan suku bunga The Fed yang sudah sempat diprediksi oleh pasar.
Perspektif Harga Minyak Dunia
Kedua faktor yakni permintaan AS dan kebijakan moneter akan terus menjadi fokus utama pelaku pasar. Bila data permintaan menunjukkan pelemahan yang lebih nyata, dan suku bunga tetap tinggi atau hanya perlahan diturunkan, tekanan terhadap harga minyak kemungkinan akan berlanjut. Sebaliknya, jika pasokan semakin terganggu atau konsumsi meningkat, harga bisa kembali naik.
Untuk analisis lebih lanjut dan data terkini tentang pasar energi dan minyak, silakan kunjungi JurnalLugas.Com.






