JurnalLugas.Com — Iran secara terbuka mengakui telah meluncurkan serangan udara terhadap sejumlah pangkalan militer Israel dalam konflik yang memanas bulan lalu. Konfirmasi ini diperkuat oleh pernyataan dari pejabat militer Israel, yang menyebutkan bahwa beberapa fasilitas militer di wilayah selatan dan tengah negara tersebut memang sempat terdampak, meski tingkat kerusakannya masih tergolong terbatas.
Langkah Iran ini menjadi babak baru dalam konflik antara dua negara musuh bebuyutan di kawasan Timur Tengah, yang selama ini sering berlangsung dalam bentuk serangan siber, sabotase, dan operasi rahasia. Namun kali ini, eskalasi terjadi secara terbuka dalam skala militer langsung.
Israel Benarkan Serangan: Fasilitas Tetap Berfungsi
Mayor Jenderal Daniel Hagari, juru bicara militer Israel, dalam jumpa persnya pada awal pekan ini mengatakan bahwa pangkalan militer mereka sempat menjadi sasaran rudal Iran pada pertengahan Juni. Ia membenarkan adanya kerusakan ringan pada infrastruktur pendukung, namun operasional militer tetap berjalan.
“Beberapa fasilitas kami memang dihantam, namun tidak ada sistem utama yang lumpuh. Fasilitas pesawat tetap beroperasi penuh,” kata Hagari dikutip media internasional, Selasa (8/7).
Pernyataan ini sekaligus menepis klaim awal Iran yang menyebut serangan tersebut sebagai “pukulan besar terhadap kekuatan militer Zionis.” Israel menyebut sebagian besar rudal Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome dan Arrow 3.
Iran Sebut Serangan sebagai Pembalasan
Menteri Pertahanan Iran, Mohammad-Reza Ashtiani, dalam wawancara dengan media, mengungkapkan bahwa serangan udara tersebut merupakan bentuk pembalasan atas serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus pada Mei lalu, yang menewaskan beberapa perwira tinggi Garda Revolusi.
“Kami tidak memulai konflik, tapi kami akan membalas setiap agresi dengan cara yang tegas dan sepadan,” ujar Ashtiani.
Ia menambahkan bahwa operasi militer tersebut diklaim berhasil mengenai target strategis, meskipun tidak memaparkan data atau bukti yang mendukung pernyataan itu.
Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa mereka bertindak berdasarkan hak untuk membela diri sebagaimana diatur dalam Piagam PBB.
Respons Internasional Terbelah
Amerika Serikat melalui pernyataan Departemen Luar Negeri menyatakan keprihatinannya atas eskalasi kekerasan, namun tetap mendukung hak Israel untuk membela diri.
Sementara itu, Rusia dan Tiongkok menyerukan kedua belah pihak untuk menahan diri. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam forum BRICS mengatakan bahwa “eskalasi ini mengancam stabilitas kawasan dan bisa mengarah pada konflik lebih luas.”
Uni Eropa pun mendesak agar Iran dan Israel kembali menempuh jalur diplomasi dan menghindari aksi balasan berulang yang berpotensi merugikan warga sipil.
Pengamat: Ini Langkah Berani tapi Berisiko
Analis politik Timur Tengah dari Atlantic Council, Lina Khatib, menilai langkah Iran untuk secara terbuka mengakui serangan terhadap militer Israel sebagai tindakan yang berani namun sangat berisiko.
“Biasanya Iran beroperasi melalui proxy seperti Hizbullah atau kelompok milisi lain. Tapi kali ini mereka melakukannya sendiri secara langsung dan mengakuinya, ini menunjukkan peningkatan kepercayaan diri sekaligus sinyal bahwa mereka siap konfrontasi terbuka,” jelas Khatib.
Ia juga mencatat bahwa tindakan ini bisa memperkuat sentimen anti-Iran di kalangan negara-negara Arab moderat, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain, yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel.
Kondisi di Lapangan: Siaga Tinggi dan Mobilisasi
Sejak serangan tersebut, militer Israel dilaporkan meningkatkan status siaga di seluruh wilayah perbatasan, terutama di utara dekat Lebanon dan Suriah. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan aksi lanjutan dari kelompok proksi Iran seperti Hizbullah.
Warga sipil di wilayah Negev dan Beersheba juga dilaporkan mengalami gangguan akibat sirene peringatan yang berbunyi pada malam hari saat serangan terjadi. Namun, tidak ada laporan korban jiwa dari pihak Israel.
Sebaliknya, Iran menyebutkan bahwa dua pilot drone dan satu teknisi militer mereka gugur saat mengoperasikan sistem serangan dari wilayah barat daya Iran.
Kembali ke Meja Perundingan atau Maju ke Konflik Terbuka?
Konflik ini terjadi di tengah upaya komunitas internasional untuk menghidupkan kembali perundingan nuklir Iran (JCPOA). Para diplomat khawatir bahwa serangan langsung semacam ini akan mengganggu seluruh proses negosiasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Utusan Khusus PBB untuk Timur Tengah, Tor Wennesland, menyerukan agar kedua pihak segera menghentikan siklus kekerasan dan memprioritaskan perundingan damai.
“Tidak ada solusi militer untuk masalah politik. Iran dan Israel harus menunjukkan tanggung jawab sebagai kekuatan besar di kawasan,” ujarnya.
Namun banyak analis memprediksi bahwa kedua pihak masih akan melanjutkan aksi militer terbatas dalam waktu dekat, mengingat dinamika politik dalam negeri masing-masing.
Ketegangan Terus Membara, Dunia Menunggu Sikap
Pengakuan Iran atas serangan udara ke Israel merupakan momen langka dan krusial dalam sejarah panjang konflik dua negara ini. Meski dampaknya di lapangan masih terbatas, secara politik dan diplomatik langkah ini telah mengguncang kawasan.
Israel berada dalam posisi defensif tetapi tetap menunjukkan kekuatan militernya, sementara Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan diam jika kepentingan nasional diserang. Dalam situasi yang serba tegang ini, masa depan hubungan Iran-Israel berada di ujung tanduk.
Pertanyaannya kini: apakah dunia akan menyaksikan babak baru konfrontasi militer langsung atau keduanya akan dipaksa kembali ke jalur diplomasi oleh tekanan internasional?
Simak berita geopolitik teraktual dan liputan mendalam lainnya hanya di JurnalLugas.Com.






