Rusia Siap Pasok Uranium Iran Usai Serangan Israel BRICS Dukung Teheran Barat Jantungan

JurnalLugas.Com — Rusia secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk membantu Iran mengisi kembali cadangan uranium yang terdampak selama konflik bersenjata 12 hari dengan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum internasional BRICS yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, awal pekan ini, dan langsung memicu reaksi keras dari beberapa pihak, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Langkah Moskow itu menjadi sinyal kuat bahwa dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah kian meluas menjadi urusan global, melibatkan kekuatan besar dunia seperti Rusia, Tiongkok, dan negara-negara BRICS lainnya. Rusia juga menyiratkan bahwa langkah ini sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “agresi tidak sah” Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

Bacaan Lainnya

Rusia: Serangan Israel Tidak Sah, Iran Berhak Pulih

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, dalam konferensi pers bersama dengan pejabat BRICS lainnya menyebut bahwa serangan terhadap Iran harus dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

“Iran memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatan dan kapasitas nuklir sipilnya. Jika cadangan uranium mereka terdampak, maka bantuan untuk mengembalikannya adalah tindakan sah,” ujar Lavrov dalam sesi tanya jawab dengan media internasional, Senin (7/7).

Rusia juga mengisyaratkan bahwa pemulihan uranium ini tidak dimaksudkan untuk kepentingan militer, melainkan sebagai bagian dari kesepakatan nuklir JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) yang sempat terbengkalai.

Namun, pernyataan Rusia ini langsung mengundang reaksi dari Israel dan sekutu Barat.

Netanyahu: Tidak Ada Kerusakan Signifikan

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, merespons cepat melalui pernyataan publik yang dirilis oleh Kantor Perdana Menteri Israel di Yerusalem.

“Kami tidak menyerang fasilitas pengayaan uranium secara langsung. Berdasarkan intelijen kami, cadangan uranium Iran tidak mengalami kerusakan signifikan,” tegas Netanyahu.

Namun, sumber-sumber independen seperti Institute for the Study of War (ISW) menyebutkan bahwa meskipun serangan Israel tidak menghancurkan instalasi utama, beberapa jalur logistik dan fasilitas pendukung sempat terganggu akibat rudal presisi tinggi yang diluncurkan pada hari ke-8 konflik.

ISW dalam laporannya pada 9 Juli menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Iran sempat lumpuh di dua kota besar, termasuk Natanz — lokasi yang selama ini diyakini sebagai pusat pengayaan uranium negara tersebut.

BRICS Mengutuk Serangan Israel dan AS

Konferensi tingkat tinggi BRICS, yang dihadiri oleh Tiongkok, Rusia, India, Brasil, dan Afrika Selatan, menghasilkan resolusi non-bindings yang mengecam tindakan militer Israel dan meminta Dewan Keamanan PBB melakukan penyelidikan atas serangan tersebut.

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, sebagai tuan rumah, juga menegaskan sikap netral namun menyerukan de-eskalasi konflik.

“Kami ingin perdamaian, bukan proliferasi nuklir. Tapi yang lebih penting, kami menolak penggunaan kekuatan militer sepihak tanpa legitimasi hukum internasional,” ujar Lula.

China pun turut menegaskan bahwa stabilitas kawasan harus dikembalikan melalui diplomasi, bukan dengan senjata.

Iran: Kami Butuh Dukungan Teknis dan Moral

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam wawancara eksklusif dengan media, mengucapkan terima kasih atas dukungan negara-negara BRICS, terutama Rusia. Ia juga menuding AS dan Israel berusaha menggagalkan kesepakatan damai yang sedang dibangun kembali melalui jalur diplomatik di Wina.

“Bagaimana kami bisa bernegosiasi saat fasilitas nuklir kami diserang dan rakyat kami dibunuh? Tapi kami tetap membuka pintu diplomasi,” ujar Pezeshkian.

Iran juga mengklaim bahwa sistem pertahanan mereka berhasil menangkal 80% dari serangan rudal dan drone Israel, meski ada korban jiwa dan kerusakan fisik.

Menteri Pertahanan Iran, Mohammad-Reza Ashtiani, menyebut bahwa bantuan Rusia akan diprioritaskan pada pengadaan kembali logistik, pelindung fasilitas, serta pendampingan teknis pengolahan uranium tingkat rendah.

Reaksi Internasional Terbelah

Amerika Serikat secara tegas menolak langkah Rusia. Gedung Putih melalui Juru Bicara Keamanan Nasional, John Kirby, menyebut bahwa pengisian ulang uranium berisiko mempercepat potensi perlombaan senjata nuklir di kawasan.

“Langkah Rusia berbahaya dan tidak konstruktif,” kata Kirby.

Sementara itu, Uni Eropa menyarankan agar semua pihak kembali duduk bersama dalam JCPOA dan menahan diri dari langkah provokatif, baik berupa serangan maupun suplai teknologi sensitif.

Di sisi lain, Turki dan Qatar justru mendukung langkah BRICS dan menyerukan embargo atas penjualan senjata ke Israel.

Potensi Krisis Baru di Timur Tengah

Pengamat hubungan internasional dari Atlantic Council, Mark Dubowitz, menilai bahwa perkembangan terbaru ini berisiko memperbesar jurang konflik di Timur Tengah.

“Jika Rusia benar-benar mengisi ulang uranium Iran dan Israel kembali bereaksi, kita akan menghadapi konfrontasi tidak langsung yang melibatkan kekuatan besar,” kata Dubowitz dalam tulisannya.

Kekhawatiran yang sama disampaikan, dalam laporannya menyebut bahwa peran Rusia di Iran bisa menjadi batu loncatan bagi Moskow untuk membangun poros anti-Barat di kawasan mengingat situasi Ukraina yang belum sepenuhnya mereda.

Arah Baru Diplomasi atau Jalan Menuju Krisis?

Keputusan Rusia untuk membantu Iran memulihkan cadangan uranium pascaperang 12 hari bisa dilihat dari dua sudut pandang. Di satu sisi, sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap hak nuklir sipil Iran. Di sisi lain, bisa memicu babak baru ketegangan regional dan global, terutama jika AS dan Israel menganggap langkah ini sebagai provokasi langsung.

Dunia kini menantikan apakah konflik ini akan diredam melalui diplomasi atau justru berlanjut menjadi perang proksi yang lebih luas. Yang jelas, pertemuan lanjutan JCPOA dan pembicaraan di PBB akan menjadi panggung penting dalam menentukan arah kawasan.

Baca berita geopolitik terkini dan eksklusif lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Iran Abaikan Perundingan AS Abbas Araqchi Teheran Kecam Kebiadaban Israel Didukung Amerika

Pos terkait