JurnalLugas.Com – Ketegangan ekonomi internasional kembali memanas. Uni Eropa dan Kanada menyatakan siap mengambil tindakan balasan jika Amerika Serikat di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump kembali menerapkan tarif impor baru yang dijadwalkan mulai berlaku 1 Agustus 2025.
Kebijakan tersebut, yang disebut-sebut sebagai strategi perlindungan industri domestik, mendapat sorotan tajam dari berbagai negara mitra dagang utama. Dalam pernyataannya, otoritas perdagangan Uni Eropa menyebut rencana Trump itu sebagai langkah “unilateral dan provokatif” yang berpotensi menimbulkan ketidakstabilan ekonomi global.
“Jika kebijakan ini tetap dijalankan, kami tidak akan tinggal diam. Uni Eropa sedang menyusun respons terukur namun tegas,” ungkap seorang pejabat senior Komisi Eropa yang enggan disebut namanya, kepada media, Senin (22/7).
Hal serupa juga disuarakan oleh Kanada. Menteri Perdagangan Kanada dalam konferensi pers menyebut tindakan AS akan “merugikan hubungan ekonomi yang telah dibangun selama puluhan tahun.” Ia menegaskan bahwa pemerintah Kanada sedang mempersiapkan tarif balasan yang mencakup sejumlah produk strategis asal Amerika.
Langkah Trump ini merupakan bagian dari strategi barunya dalam kampanye menuju pemilihan presiden 2025. Dalam pidato di Ohio pekan lalu, Trump menyampaikan bahwa “negara-negara seperti Brasil dan Kanada mengambil keuntungan terlalu lama dari AS,” dan tarif ini “diperlukan untuk menyeimbangkan kembali peta perdagangan.”
Namun, banyak ekonom memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa memicu gelombang perang dagang global baru yang dampaknya luas. Analis perdagangan internasional dari Harvard, Prof. Lisa Mendelson, mengatakan bahwa “pengenaan tarif sepihak seperti ini bisa memicu pembalasan berantai dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.”
Di sisi lain, para pelaku industri di dalam negeri AS juga merasa resah. Asosiasi Pengusaha Amerika menyampaikan bahwa kenaikan tarif akan berdampak langsung pada biaya bahan baku dan produksi dalam negeri. “Tarif semacam ini hanya akan menambah beban industri manufaktur, bukan menguatkannya,” ujar Direktur Eksekutif asosiasi tersebut, Mark J. Collins.
Sementara itu, pasar global menunjukkan reaksi negatif. Indeks saham utama di Eropa dan Asia mengalami pelemahan tipis sejak akhir pekan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik dagang lintas negara.
Di tengah ketegangan yang meningkat, diplomasi dagang internasional kembali diuji. Uni Eropa menyerukan kepada Washington untuk membuka ruang dialog sebelum tarif diberlakukan, namun belum ada tanggapan resmi dari tim kampanye Trump maupun otoritas perdagangan AS.
Jika tidak ada langkah diplomatik yang konkret dalam beberapa hari ke depan, dunia berpotensi menghadapi spiral perang tarif yang berdampak langsung terhadap perdagangan global, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi.
Selengkapnya ikuti perkembangan berita dan analisis terkini hanya di JurnalLugas.Com.






