JurnalLugas.Com — Direktur Utama PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS), Teguh Patriawan, kembali memperkuat posisinya sebagai pemegang saham signifikan di perusahaan perkebunan sawit tersebut.
Langkah ini dilakukan melalui transaksi pembelian saham pada 19 Agustus 2025. Teguh memborong sebanyak 29.554.800 saham NSSS dengan harga Rp370 per saham, atau lebih rendah dibandingkan harga pasar saat itu. Total dana yang digelontorkan untuk transaksi ini mencapai sekitar Rp10,9 miliar.
Dengan tambahan kepemilikan tersebut, jumlah saham yang dipegang Teguh kini naik menjadi 2,71 miliar saham atau 11,41 persen, dari sebelumnya 2,68 miliar saham atau 11,29 persen.
“Tujuan transaksi adalah investasi dan status kepemilikan adalah langsung,” tulis Teguh dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (24/8/2025).
Latar Belakang Transaksi Saham NSSS
Sebelum aksi pembelian ini, pengendali utama NSSS yakni PT Samuel Tumbuh Bersama (STB) justru melakukan aksi berbeda. Pada 15 Agustus 2025, STB melepas 123,76 juta saham NSSS di harga Rp404 per saham.
Dari transaksi tersebut, STB berhasil meraup dana sekitar Rp49,9 miliar. Setelah penjualan itu, kepemilikan saham STB berkurang menjadi 9,71 miliar saham atau 40,83 persen, dari sebelumnya 9,84 miliar saham atau 41,35 persen.
Sinyal Optimisme di Tengah Fluktuasi Saham
Aksi beli Teguh ini dipandang sebagai bentuk keyakinan terhadap prospek bisnis perusahaan. Dengan harga beli yang berada di bawah rata-rata pasar, langkah tersebut dapat menjadi sinyal positif bagi investor ritel yang mengikuti pergerakan saham NSSS.
Meski demikian, keputusan pengendali STB untuk melepas sebagian kepemilikannya menunjukkan dinamika strategi investasi yang beragam di kalangan pemegang saham utama.
Seorang analis pasar modal menilai bahwa langkah Direktur Utama menambah kepemilikan pribadi bisa menjadi indikator kepercayaan terhadap kinerja perusahaan ke depan. “Biasanya, aksi beli dari direksi atau manajemen puncak dipandang sebagai sentimen positif. Namun tetap perlu dicermati tren jangka panjang dan kondisi industri sawit secara global,” ujar seorang pengamat pasar, dikutip secara terpisah.
Prospek Industri Sawit
Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit, NSSS menghadapi tantangan sekaligus peluang. Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional berfluktuasi, dipengaruhi faktor global seperti permintaan ekspor, kebijakan biodiesel, hingga dinamika geopolitik.
Dengan kepemilikan saham yang kian besar, langkah Teguh memperkuat posisinya diyakini akan memberi pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.
Ke depan, investor akan menantikan bagaimana NSSS mengelola ekspansi usaha, menjaga stabilitas produksi, dan merespons kebijakan pemerintah terkait hilirisasi sawit.
Baca berita bisnis terkini lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com.






