JurnalLugas.Com – Amerika Serikat dikabarkan menyadari bahwa Israel menyiapkan operasi militer melawan Palestina untuk jangka panjang, meski secara resmi tetap bernegosiasi soal gencatan senjata di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan mantan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller.
Miller menyebut bahwa Antony Blinken, mantan Menlu AS, sempat memperingatkan pemerintah Israel di awal konflik, bahwa tanpa rencana jelas mengenai masa depan Gaza, Israel berpotensi menghadapi perlawanan berkepanjangan.
Miller mengutip pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kepada kabinetnya, “Kita memang akan terus berperang dalam beberapa dekade ke depan. Itu kenyataannya.”
Netanyahu, bersama Kepala Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, dilaporkan telah menolak pertukaran tahanan dengan Hamas setidaknya lima kali.
Miller menegaskan, Washington mengetahui bahwa Israel sengaja melemahkan upaya gencatan senjata, tetapi memilih tidak bertindak. “Mandat kami terbatas, kadang tidak ada sama sekali,” ujarnya, menambahkan bahwa situasi di lapangan bisa berubah drastis dalam hitungan jam.
Pada April 2024, AS menekan kelompok perlawanan Palestina agar menerima gencatan senjata enam minggu untuk mencegah invasi Israel ke Rafah. Namun Netanyahu tetap menegaskan rencana serangan, baik dengan gencatan senjata maupun tanpa persetujuan pihak Palestina.
Lebih lanjut, Miller menyebut Israel menambah tuntutan soal Koridor Philadelphi pada Juli 2024. Padahal Hamas sudah menerima proposal mediasi AS, tetapi Israel menunda hampir sebulan untuk mempertahankan pasukan di perbatasan Gaza-Mesir. Pejabat AS menyebut hal ini menjadi titik balik yang menggagalkan momentum kesepakatan.
“Ini pola yang konsisten. Israel selalu menambah syarat atau mempersulit perundingan,” kata Miller. “Sangat mengecewakan, karena kita sudah hampir mencapai kesepakatan yang bisa membawa sandera pulang dan menghentikan konflik.”
Miller juga menambahkan bahwa akhir 2024, Netanyahu menolak saran dari badan keamanan Shin Bet dan menunggu kemungkinan Donald Trump kembali ke Gedung Putih.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik di Gaza akan berlangsung lama, dengan upaya diplomasi yang terhambat. AS pun menghadapi dilema antara menekan Israel dan menjaga keselamatan sandera serta stabilitas kawasan.
Detail dan pembahasan lengkap dapat diakses di JurnalLugas.Com.






