JurnalLugas.Com – Di tengah asap perang dan derita panjang, petani Palestina kini kian kehilangan harapan. Bukan hanya ladang mereka yang hancur akibat gempuran, tetapi juga akses terhadap pangan yang semakin terbatas.
Pemandangan memilukan terlihat di Khan Younis, ketika warga Palestina berdesakan di dapur amal demi semangkuk sup lentil atau nasi sederhana. “Kami sudah tidak bisa lagi mengandalkan lahan. Semua rusak, dan harga makanan di pasar tidak masuk akal bagi rakyat kecil,” ujar seorang pengungsi asal Gaza Utara yang kini bertahan di selatan.
Petani Kehilangan Tanah dan Akses Air
Sejak serangan intensif Zionis Israel, ribuan hektare lahan pertanian di Gaza berubah menjadi puing. Para petani tidak hanya kehilangan sumber penghasilan, tetapi juga identitas dan harapan. “Bertani bukan hanya pekerjaan, ini hidup kami. Tapi sekarang kami bahkan tak bisa memberi makan keluarga sendiri,” kata seorang petani di Rafah yang memilih disebut singkat, A.
Selain serangan udara, blokade ketat memperparah situasi. Israel menutup jalur bantuan sejak 12 September, membuat wilayah utara Gaza kian terisolasi. Permintaan PBB agar pasokan dari selatan bisa masuk ditolak mentah-mentah.
Harga Makanan Melambung
Kelangkaan pangan membuat harga melonjak tajam. Nasi, gandum, hingga sayuran yang biasanya dihasilkan petani lokal kini sulit ditemui. Akibatnya, warga bergantung penuh pada dapur umum. Namun, antrean panjang dan persediaan terbatas membuat mereka sering pulang dengan tangan kosong.
“Di dapur amal, makanan habis dalam hitungan menit. Kadang saya harus memilih apakah anak-anak atau orang tua yang lebih dulu makan,” ungkap seorang ibu pengungsi di Deir al-Balah.
Tekanan Internasional Meningkat
Kondisi ini memicu tekanan global. Sejumlah negara mulai membuka suara dengan mengakui kedaulatan Palestina, meski ditolak keras oleh Israel. Namun bagi para petani di Gaza, pengakuan politik belum mengubah kenyataan pahit di lapangan.
Hingga kini, catatan lembaga kemanusiaan menyebut lebih dari 65 ribu orang tewas dan 167 ribu luka-luka akibat serangan Israel. Di balik angka itu, tersimpan kisah petani yang kehilangan tanah, bibit, dan semangat hidup mereka.
Masa Depan Petani Kabur
Harapan akan masa depan yang tenang bagi petani Palestina seolah semakin kabur. Lahan pertanian yang dulu subur kini hanya tinggal kenangan, sementara blokade membuat mereka tak lagi mampu menghidupi keluarga.
“Selama tidak ada akses bebas ke tanah dan air, selama bom terus jatuh, harapan petani Palestina hanyalah ilusi,” kata seorang pengamat regional yang menolak disebutkan namanya.
Perang yang tak kunjung usai bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memutus akar kehidupan rakyat Gaza yang sejak lama bertumpu pada tanah mereka sendiri.
Berita independen lainnya dapat diakses di: JurnalLugas.Com






