Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) Melonjak 21% Usai Rights Issue Jumbo Rp3,2 Triliun

JurnalLugas.Com — Pergerakan saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) melonjak tajam pada perdagangan Senin (29/9/2025) setelah manajemen mengumumkan rencana rights issue bernilai jumbo mencapai Rp3,2 triliun.

Hingga pukul 10.36 WIB, harga saham INET menanjak 21,93 persen ke level Rp278 per saham dengan nilai transaksi lebih dari Rp223 miliar. Sepanjang tahun berjalan, saham perusahaan ini sudah naik sekitar +375 persen (year to date), menjadikannya salah satu emiten dengan performa paling agresif di sektor infrastruktur digital.

Bacaan Lainnya

Rincian Rights Issue

INET akan menerbitkan maksimal 12,8 miliar saham baru, mewakili 57,14 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca aksi korporasi. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp250 per saham dengan rasio pembagian 3:4 (tiga saham lama memperoleh empat Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu/HMETD).

Selain itu, perusahaan juga akan mengeluarkan 3,07 miliar Waran Seri II dengan rasio 25:6. Waran tersebut bisa dieksekusi menjadi saham baru pada periode 3 Juni 2026 hingga 1 Desember 2028, memberikan potensi tambahan modal di masa depan.

Baca Juga  Lippo General Insurance Tunjuk Komisaris Baru Roberto Fernandez Feliciano Laba Semester I 2025 Melonjak

Dukungan Pemegang Saham Mayoritas

Pemegang saham pengendali, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN) yang menguasai 60,62 persen kepemilikan, menegaskan akan menyerap seluruh haknya senilai Rp1,78 triliun. Bahkan, AKUN juga siap menjadi pembeli siaga hingga Rp1,41 triliun untuk saham baru yang tidak terserap investor publik.

Manajemen menyebut, “Komitmen pemegang saham mayoritas menjadi faktor penting yang menambah keyakinan pasar terhadap keberhasilan aksi korporasi ini.”

Alokasi Dana Rights Issue

Dana segar hasil rights issue akan digunakan untuk ekspansi besar-besaran, di antaranya:

  1. Rp2,8 triliun disalurkan ke anak usaha PT Garuda Prima Internetindo (GPI) guna membangun jaringan FTTH (Fiber To The Home) berbasis teknologi WiFi 7, menargetkan 2 juta homepass di Bali dan Lombok.
  2. Rp213 miliar dialokasikan ke PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) untuk membayar sewa kabel bawah laut (IRU).
  3. Rp135 miliar diberikan kepada PT Internet Anak Bangsa (IAB) sebagai modal kerja pengembangan jaringan FTTH di Pulau Jawa.
  4. Sisanya dipakai untuk pengadaan perangkat, pemasaran, pelatihan sumber daya manusia, hingga biaya operasional.

Direksi menegaskan bahwa fokus utama penggunaan dana adalah memperluas jaringan internet berkualitas tinggi serta memperkuat infrastruktur digital nasional.

Peluang dan Tantangan

Kabar rights issue jumbo ini langsung disambut positif investor karena dinilai mampu memperbaiki struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi agresif di sektor digital. Potensi kenaikan harga saham pun terbuka lebar jika eksekusi berjalan lancar.

Baca Juga  29 Perusahaan Antre IPO di BEI Sektor Konsumer Paling Mendominasi!

Namun, pemegang saham lama yang tidak berpartisipasi dalam HMETD akan menghadapi risiko dilusi kepemilikan hingga 57,14 persen. Meski demikian, kehadiran pembeli siaga memberi jaminan bahwa target penghimpunan modal tetap bisa tercapai.

Rights issue senilai Rp3,2 triliun ini menjadi tonggak penting bagi INET dalam memperluas jaringan dan memperkuat layanan digital di Indonesia. Jika terealisasi sesuai rencana, perusahaan berpotensi menjadi pemain utama penyedia layanan internet berbasis fiber di kawasan Bali, Lombok, dan Jawa.

Dengan dukungan pemegang saham pengendali serta prospek industri digital yang terus tumbuh, langkah strategis INET dipandang sebagai sinyal positif bagi investor jangka panjang.

Untuk berita ekonomi dan saham terkini, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait