Biadab Pemukim Israel di Tepi Barat Rampok Petani Zaitun Palestina, OCHA 71 Serangan Sepekan

JurnalLugas.Com — Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan peningkatan tajam kekerasan perampokan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat selama periode 7–13 Oktober 2025. Dalam laporan mingguan tersebut, OCHA mencatat sebanyak 71 insiden serangan, sebagian besar terjadi bersamaan dengan dimulainya musim panen zaitun tahunan.

Serangan-serangan ini dilaporkan terjadi di 27 desa Palestina, mengakibatkan sejumlah korban luka serta kerusakan pada rumah dan lahan pertanian warga. Menurut keterangan pejabat OCHA, pola kekerasan ini bukan hal baru dan sering kali meningkat setiap kali musim panen dimulai.

Bacaan Lainnya

“Serangan mencakup penganiayaan terhadap petani, pencurian hasil panen dan peralatan, serta pembakaran atau perusakan pohon zaitun yang menjadi sumber penghidupan utama warga,” ujar seorang pejabat OCHA yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Petani Palestina Hadapi Intimidasi dan Kerugian Besar

Selama musim panen zaitun, lahan pertanian Palestina kerap menjadi target serangan oleh pemukim bersenjata maupun tentara pendudukan. Insiden semacam ini membuat banyak petani tak dapat mengakses ladang mereka sendiri, menyebabkan kerugian ekonomi besar dan menambah beban hidup masyarakat yang sudah tertekan oleh blokade serta pembatasan mobilitas.

Lembaga Komisi Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman menyebut bahwa sejak 7 Oktober 2023, pemukim Israel telah melancarkan lebih dari 7.150 serangan terhadap warga dan properti di wilayah Tepi Barat. Dalam periode tersebut, sedikitnya 33 warga Palestina meninggal dunia, dan 48.728 pohon dilaporkan rusak atau ditebang paksa termasuk 37.237 pohon zaitun yang menjadi simbol penting ketahanan ekonomi rakyat Palestina.

Dampak Kemanusiaan yang Semakin Parah

OCHA memperingatkan bahwa situasi ini berpotensi memperburuk kondisi kemanusiaan di Tepi Barat, di mana ribuan keluarga bergantung pada hasil panen zaitun untuk bertahan hidup. Selain kerugian ekonomi, kekerasan berulang juga menimbulkan trauma sosial dan memperdalam jurang konflik antara warga sipil Palestina dan kelompok pemukim Israel yang mendapat perlindungan militer.

“Perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi prioritas. Tindakan kekerasan terhadap petani bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia, tapi juga ancaman serius terhadap stabilitas kawasan,” ungkap analis kemanusiaan OCHA.

Situasi ini menunjukkan bahwa meski perhatian dunia sering terfokus pada Gaza, penderitaan warga Tepi Barat tidak kalah berat dan membutuhkan respon kemanusiaan segera dari komunitas internasional.

Baca berita independen lainnya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Bantuan Malaysia untuk Gaza Bertambah Rp417 Miliar PM Anwar Ajak Konglomerat Ikut Serta

Pos terkait