Trump dan Netanyahu Sepakat, Gaza Tak Dibangun Sebelum Hamas Dilucuti

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada kelompok Hamas terkait proses pelucutan senjata di Jalur Gaza.

Dalam pidato pada pertemuan perdana forum internasional bertajuk Board of Peace di Washington DC, Kamis (19/2), Trump menegaskan bahwa komitmen Hamas untuk menyerahkan persenjataan harus segera direalisasikan.

Bacaan Lainnya

Ia menyatakan bahwa pihaknya sejauh ini masih meyakini kelompok tersebut akan memenuhi janji yang telah disampaikan sebelumnya. Namun, Trump menambahkan bahwa konsekuensi serius akan diberlakukan apabila komitmen tersebut diabaikan.

“Jika mereka tidak menepatinya, tindakan tegas akan diambil,” ujar Trump dalam pernyataan singkatnya di hadapan peserta forum.

Netanyahu: Gaza Harus Didemiliterisasi

Secara terpisah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan bahwa Gedung Putih memiliki pandangan yang sejalan terkait masa depan Gaza.

Ia mengungkapkan bahwa proses rekonstruksi wilayah tersebut tidak akan dimulai sebelum Hamas benar-benar melucuti persenjataan dan wilayah Gaza memasuki tahap demiliterisasi penuh. Langkah ini disebut sebagai prasyarat utama guna memastikan stabilitas keamanan jangka panjang di kawasan konflik.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional terhadap keberlanjutan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya antara Israel dan Hamas.

Hamas Tuduh Israel Ubah Strategi Perang

Di sisi lain, Hamas melalui juru bicaranya Hazem Qassem menyerukan kepada forum Board of Peace untuk turun tangan menghentikan apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran berkelanjutan oleh Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada Selasa (17/2), Qassem menilai bahwa dinamika konflik dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa operasi militer Israel tidak benar-benar dihentikan, melainkan hanya mengalami perubahan metode di lapangan.

Ia menyoroti berbagai kondisi kemanusiaan yang menurutnya masih berlangsung, termasuk pengungsian massal, blokade wilayah, hingga krisis pangan yang memburuk di kawasan tersebut.

Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa forum diplomatik internasional justru dapat dimanfaatkan sebagai ruang legitimasi bagi langkah militer lanjutan.

Rekonstruksi Gaza di Persimpangan

Ancaman dari Washington dan syarat demiliterisasi yang diajukan Israel kini menempatkan proses pemulihan Gaza pada titik krusial. Tanpa adanya kepastian pelucutan senjata, upaya pembangunan kembali infrastruktur sipil berpotensi tertunda dalam waktu yang belum dapat dipastikan.

Perkembangan terbaru ini sekaligus menjadi ujian bagi efektivitas diplomasi global dalam meredam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Baca selengkapnya di https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Macron Prancis Akui Negara Palestina di PBB Israel Geram Siapkan Aksi Balasan

Pos terkait