Saham GOTO Melonjak, Pergantian Direksi hingga Isu Merger Grab Jadi Sorotan

JurnalLugas.Com – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menarik perhatian pasar setelah mencatat penguatan signifikan pada perdagangan sesi I, Senin (8/12/2025). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham GOTO melesat 7,81 persen ke level Rp70 per lembar, dengan nilai transaksi mencapai Rp667,70 miliar.

Secara bulanan, saham GOTO tercatat naik 13,11 persen, meski masih melemah 1,43 persen dibanding posisi awal tahun.

Bacaan Lainnya

Pergantian Pucuk Pimpinan: Patrick Walujo Mundur

GoTo resmi mengumumkan rencana suksesi manajemen pada akhir November 2025. Melalui keterbukaan informasi di BEI pada 24 November, perseroan menyampaikan bahwa Hans Patuwo, COO GoTo, dinominasikan menjadi Direktur Utama & CEO, menggantikan Patrick Walujo.

Manajemen menjelaskan bahwa proses ini merupakan bagian dari strategi suksesi yang telah disiapkan sejak lama untuk memastikan stabilitas organisasi sekaligus memperkuat eksekusi operasional saat perusahaan memasuki fase pertumbuhan berikutnya menuju profitabilitas.

Baca Juga  PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) Akuisisi 53% Saham PT Personil Alih Daya Tbk (PADA), Pasar Modal Bereaksi

Keputusan final terkait perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris dijadwalkan berlangsung dalam RUPSLB pada 17 Desember 2025.

Isu Merger dengan Grab Kembali Menguat

Spekulasi mengenai rencana merger GoTo dan Grab kembali menjadi perbincangan hangat. Analis Citi Research F. Wong dan R. Davis, dikutip Dow Jones Newswires (24/11/2025), menilai restrukturisasi manajemen GoTo dapat meningkatkan peluang persetujuan regulator untuk penggabungan dua perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Dalam risetnya, keduanya menyebut bahwa meski eksekusi merger masih menyimpan risiko, komposisi manajemen baru memberikan sinyal positif bagi kelanjutan proses konsolidasi.

Kabar semakin diperkuat dengan informasi bahwa Danantara, sovereign wealth fund (SWF) Indonesia, disebut ikut menjajaki langkah tersebut. Kehadiran Danantara dipandang sebagai indikasi dukungan kuat dari pemerintah.

“Keterlibatan Danantara sebagai investor netral berafiliasi negara dapat meredam kekhawatiran monopoli, mengingat entitas gabungan berpotensi menguasai sekitar 90 persen pasar ride-hailing dan layanan pesan-antar makanan,” tulis F. Wong dan R. Davis dalam catatannya.

GoTo sebelumnya telah menegaskan bahwa hingga awal November tidak ada keputusan maupun kesepakatan terkait merger dengan Grab.

Prospek Laba Positif: GOTO Dibidik Cetak Profit di 2026

Optimisme terhadap kinerja GoTo semakin besar. Analis CGS International (CGSI) menilai perseroan berada di jalur yang tepat untuk mencatat laba bersih pertamanya pada tahun buku 2026.

Dalam riset terbaru, CGSI menyebutkan bahwa:

  • Segmen layanan keuangan diproyeksikan menjadi kontributor terbesar, menyumbang sekitar 60 persen terhadap perbaikan adjusted EBITDA.
  • Segmen on-demand (ODS) juga dinilai berhasil mempertahankan pertumbuhan melalui efisiensi operasional.

CGSI memberikan rekomendasi add untuk saham GOTO seiring membaiknya proyeksi fundamental perusahaan. Lembaga riset tersebut juga menetapkan target harga di level Rp77 per saham.

Menurut CGSI, rencana konsolidasi dengan Grab apabila benar-benar terwujud berpotensi menjadi katalis kuat bagi pergerakan harga saham dalam beberapa kuartal mendatang.

Selengkapnya kunjungi: https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait