JurnalLugas.Com — Harga emas global menguat tipis pada perdagangan Kamis waktu AS (Jumat, 12 Desember 2025), setelah Federal Reserve melakukan pemangkasan suku bunga parsial dan memberikan sinyal kehati-hatian terkait kemungkinan pelonggaran moneter lanjutan.
Pada Jumat pagi, harga emas berjangka tercatat naik 0,4% menjadi USD 4.242,70 per ons, sementara emas spot menguat 0,2% ke posisi USD 4.217,23 per ons.
Keputusan The Fed dan Dampaknya ke Pasar Emas
Kenaikan tipis harga emas terjadi setelah The Fed memutuskan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, menempatkannya pada kisaran 3,50% – 3,75%, level terendah dalam tiga tahun terakhir.
Meski demikian, keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara yang terpecah, menunjukkan adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral.
Seorang analis moneter, AR, menjelaskan bahwa The Fed masih berhati-hati dalam mengambil langkah lanjutan.
“The Fed ingin melihat bukti lebih kuat bahwa pasar tenaga kerja dan inflasi benar-benar mendingin. Tanpa itu, ruang pemangkasan tambahan masih terbatas,” ujar AR dalam ulasan risetnya.
The Fed juga menegaskan bahwa biaya pinjaman mungkin tidak akan kembali turun dalam waktu dekat, seiring kebutuhan untuk menilai perkembangan ekonomi secara lebih komprehensif.
Bagi komoditas emas, suku bunga yang lebih rendah biasanya memberikan dukungan karena emas tidak menghasilkan imbal hasil. Lingkungan suku bunga rendah membuat investor lebih tertarik pada aset lindung nilai ini.
Saat ini pasar tengah menantikan rilis data pekerjaan dan inflasi AS untuk November 2025, yang akan diumumkan pekan depan, disusul laporan lanjutan terkait pertumbuhan ekonomi kuartal III.
Minat Investasi Emas Masih Minim Meski Harga Cetak Rekor
Meskipun harga emas menembus rekor sepanjang 2025, minat investor besar AS ternyata masih sangat terbatas.
Goldman Sachs mencatat bahwa kepemilikan ETF emas hanya sekitar 0,17% dari total portofolio keuangan swasta AS pada kuartal kedua. Porsi tersebut hanyalah sebagian kecil dari total aset sekitar USD 112 triliun yang dimiliki masyarakat AS dalam bentuk saham dan obligasi.
Laporan yang sama menunjukkan bahwa kurang dari separuh lembaga besar AS dengan pengelolaan dana di atas USD 100 juta memiliki eksposur terhadap ETF emas.
Bahkan bagi lembaga yang memilikinya, alokasinya cenderung kecil, yakni 0,1% hingga 0,5% dari total portofolio.
Seorang analis pasar komoditas, DR, menuturkan:
“Untuk investor jangka panjang di AS, emas biasanya hanya menjadi penyeimbang risiko dalam porsi kecil, sekitar 0,2% dari total portofolio.”
Minimnya alokasi tersebut menunjukkan bahwa meski harga emas berada di puncak, investor tetap berhati-hati dan memilih fokus pada saham serta instrumen pendapatan tetap yang dianggap lebih menjanjikan dalam jangka pendek.
Selengkapnya bisa dibaca di: https://JurnalLugas.Com






